Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia UHAMKA (Nopi)

Hallo, Intipers! Pasti di zaman yang katanya udah now ini, ada kids yang mungkin masih doubting atau counfused dengan program studi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia, right? Ok, kalau gitu kita kenalan dulu, ya. Nama saya Siti Nopiyanti, biasanya dipanggil Nopi. Saya adalah mahasiswa semester 7 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA). Saya angkatan 2014 dan baru saja menyelesaikan KKL juga PPL. Kini, hari-hari saya adalah sebagai mahasiswa yang sedang dalam proses penyusunan proposal skripsi dengan diwarnai kegiatan lainnya, seperti menjadi Relawan Duta Literasi dan penulis freelance media online. Well, saya akan mengulas stereotip orang-orang mengenai prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia sekaligus mengenalkannya lebih dekat pada Intipers. Let’s check it out!

Stereotip mendasar atau yang paling umum dari orang-orang adalah, “Ngapain sih belajar bahasa Indonesia? Udah hampir seabad hidup di Indonesia emang belom lancar bahasa Indonesianya?”

Stereotip berikutnya adalah, “Hellow! Nggak bosen ketemu bahasa Indonesia dari SD sampe SMP? Segala di-UN-in pula. Gak usah ngambil jurusan bahasa Indonesia! Di jurusan lain juga bakal ketemu lagi sama bahasa Indonesia dasar.”

Dan yang berikutnya adalah, “Ngapain sih ngambil jurusan bahasa Indonesia? Mau jadi apa? Kerjanya nanti ngapain? Udah susah, buat apa?”

Stereotip yang pertama tentu tidak benar. Kita mungkin bisa berbahasa Indonesia tetapi bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar secara lisan di muka umum perlu mengasah keterampilan berbicara kita. Bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar melalui tulisan pun perlu mengasah keterampilan menulis kita. Nah, ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian mata kuliah yang dipelajari.

Stereotip yang kedua, saya analogikan dengan salah satu hakikat bahasa yaitu dinamis. Begitu pula dengan disiplin ilmu yang dipelajari dalam bahasa Indonesia. Ketika di perguruan tinggi, bahasa Indonesia yang dipelajari pun semakin kompleks. Belum lagi, pada jurusan ini fokusnya terbagi tiga. Ada ilmu pendidikan (pedagogik), ilmu bahasa (linguistik), dan ilmu sastra. So, nggak lagi sama yang dipelajari kayak waktu kita sekolah.

Dan stereotip yang ketiga, saya akan menguji keyakinan Intipers dengan pertanyaan-pertanyaan. Jika arah karier mutlak mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia akan bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah, mungkin nggak anak bahasa Indonesia bisa jadi:

follow_intipjurusan_COMPRES

Moderator diskusi? MC yang fleksibel di berbagai acara (formal, semiformal, informal)? Jurnalis? Penulis-editor? Aktor-sutradara teater/film? Tutor yang dibutuhkan oleh calon taruna lembaga pendidikan kedinasan? Pegawai bank? Entrepreneur? Semua itu BISA SAJA. Asal ada kemauan, pasti ada jalan.

Pada prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, khususnya di kampus saya, skill berbicara kita akan diasah melalui mata kuliah keterampilan berbicara dan pewara (pembawa acara). Apalagi dengan asumsi kita sebagai calon guru, dituntut memiliki skill komunikasi yang baik maka sebagai mahasiswa kita semakin terpacu untuk mengasah keterampilan berbicara kita. Dan kalau kamu suka berorganisasi, di sini ada organisasi kemahasiswaan tingkat prodi, yaitu Hima PBSI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Setelah kamu mengikuti pelatihan kepemimpinan tingkat dasarnya, cara beretorikamu dijamin akan semakin keren karena di sini kemampuan berbicaramu akan semakin tajam diasah. Tidak hanya tentang skill beretorika, tapi menjadi percaya diri dan berwawasan luas menjadi paket yang tidak dapat dipisahkan di dalamnya. But, don’t u worry, Intipers. Kalau kamu mau melalang buana, banyak senior dan alumni yang mau berbagi ilmunya dan mengajarkan juniornya untuk menjadi mahasiswa yang tidak hanya memiliki satu warna keahlian saja. Ini sedikit pengalaman saya, ya Intipers. Saya pernah diamanahkan untuk menjadi moderator Diskusi Ilmiah Filologi, MC Festival Film dan Iklan, dan pembawa acara saat pembukaan sekaligus sosialisasi Sanggar Kreatif sebagai proker KKL yang diusung oleh saya dan teman-teman di Pandeglang, Banten. Meskipun awalnya sempat nervous, tapi karena udah pernah kenalan sama mata kuliahnya, jadi nggak perlu merasa canggung lagi di hadapan banyaknya audiences. Kalau udah biasa nge-MC pasti temen-temen nggak akan ragu nunjuk kamu jadi MC-nya. Dan kalau namamu udah terkenal suka nge-MC di mana-mana, biasanya akan dapet fee, lumayan kan buat nambah uang jajan kamu. Misalnya, dipanggil buat nge-MC di acara kantor ayahmu. Hehehe..

Saat pembukaan dan sosialisasi Sanggar Kreatif di Desa Alaswangi, Menes, Pandeglang-Banten yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat, warga desa setempat dan anak-anaknya.

Kalau tadi tentang retorika, let’s moving on mengenai tulis menulis. Kuy! Menjadi jurnalis dan penulis. Menjadi jurnalis yang bebas, citizen journalism jawabannya. Kalau tulisanmu lolos diseleksi oleh kurator, editor, atau redaktur, biasanya ada media yang akan memberikan fee untuk kontributornya. Di prodi ini, kamu akan diajarkan tentang keterampilan menulis ilmiah, sastra, dan jurnalistik. Keren kan? Dua keterampilan berbahasa tersebut (berbicara dan menulis) akan lebih gereget kalau kamu percaya diri untuk megaplikasikan ilmunya. Jadi berasa kayak anak ilmu komunikasi deh. Hehehe.. Kita juga akan diajarkan menjadi editor melalui mata kuliah keterampilan penyuntingan. Nah, buat kamu yang orangnya teliti banget dan nggak keberatan untuk memperbaiki kesalahan, sepertinya mata kuliah ini adalah kamu banget.

Saya pernah menjadi tutor akademik-bahasa Indonesia pada salah satu bimbingan belajar dan pelatihan yang didirikan oleh seorang polisi Kota Bekasi untuk persiapan seleksi penerimaan siswa di lembaga pendidikan ikatan dinas, khususnya Akpol dan SPN. Ketika passion dan kewajiban sudah menyatu, di sinilah kesempatan untuk unjuk kebolehan sebagai mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yang ber-value.

Tugas yang sering diberikan dosen, biasanya adalah makalah, resensi, presentasi-diskusi, observasi, studi kasus, dan studi lapangan. Jangan khawatir bakal sibuk kuliah dan nggak punya waktu buat travelling karena nggak menutup kemungkinan kamu akan beberapa kali ke luar kota bahkan pulau untuk penelitian. Ibarat pepatah bilang, menyelam sambil minum air, jadi penelitian sambil liburan. Hehehe..

Tugas yang paling berkesan adalah pementasan drama dan KKL. Meskipun ditimba sekelas, untuk menentukan peran masing-masing orang maka harus melaui audisi dahulu. Nah, di sini kamu akan mengenal lebih dekat potensimu, apakah di bidang seni, seperti aktor, sutradara, tim kreatif (dekorator panggung, penata rias, penata busana, penata cahaya/lighting); atau di bidang manajemen, seperti humas, asisten sutradara, produser, konsumsi, dan lain-lain. Dibandingkan saat tugas membuat film atau iklan, berteater adalah yang paling berkesan. Prosesnya benar-benar terasa, kekompakannya, kebersamaanya, apalagi ketika teater kelas kita berhasil menyabet penghargaan pada festival drama.

Tugas lapangan di prodi ini ada kuliah lapangan, penyuluhan, KKL, dan PPL. Kuliah lapangan biasanya penelitian ke luar kota kemudian mempresentasikan hasil penelitian kita dalam diskusi ilmiah. KKL lebih fleksibel dibandingkan dengan penyuluhan ataupun PPL. Cakupannya bisa pada bidang kebahasaan ataupun kesusastraan dan waktu yang didedikasikan juga lebih lama. KKL itu seru banget. Di sini hati kita akan tersentuh dan semakin bersyukur dengan fasilitas yang udah kita miliki di kota, tapi kalau KKL-nya di desa ya, hehehe.. Itung-itung sambil liburan dan bertualang. Nyuci di sungai, dikejar-kejar soang, mengajar anak-anak desa di padang rumput, bertegur sapa dengan warga yang ramah tamah. Unforgetable moment lah pokoknya.

Saya sebagai Penari Topeng Ireng dan teman saya sebagai pemeran tokoh Bapak sebelum pementasan Teater Dering Rembulan di Mata Ibu yang diadaptasi dari cerpen karya Asma Nadia pada Festival Drama PBSI UHAMKA yang bertema Wajah Prosa dalam Bingkai Drama Indonesia.

Saya dan rekan saya ketika menjadi MC pada acara Festival Film dan Iklan PBSI UHAMKA 2017 yang bertema Senandika Sandiwara dalam Tangkai Religi.

Prospek kerja setelah lulus itu banyak. Bisa menjadi guru atau tutor, pengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), pegawai bank, jurnalis, editor, penulis, dan lain-lain. Di era milineal ini, pemerintah sedang gencar-gencarnya mengusung budaya literasi di Indonesia. Nah, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia adalah salah satu jurusan hits yang dapat dijadikan wadah dalam menyumbangkan kontribusi literasi. Dan sebagai mahasiswa dari jurusan ini, saya mempunyai kewajiban dalam kontribusi literasi melalui Relawan Duta Literasi. Gimana Intipers? Masih meragukah dengan jurusan ini? Tanyakan pada hati kecilmu, ya! Hehe.. Semoga ulasan yang saya sampaikan ini bisa bermanfaat, ya.

Bagi kalian yang suka berkesenian (apresiasi sastra) sambil berlogika (bermain dengan bahasa), prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesialah jawabannya. Setiap tahunnya, program studi PBSI UHAMKA menyemarakkan bulan bahasa yang didukung oleh Hima PBSI UHAMKA dan Komunitas Vanderwijck, komunitas sastra yang ada di UHAMKA. Kamu akan menemukan banyak wadah untuk mengasah minat dan bakatmu di sini. Jadi kegiatanmu sebagai mahasiswa nggak monoton atau hanya sebatas jadi kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang).


Tentang Penulis: Siti Nopiyanti

Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UHAMKA Jakarta yang sedang menyusun proposal skripsi sambil menjadi kontributor freelance media online, menyelesaikan missi Relawan Duta Literasi, dan terus belajar menjadi guru bahasa Indonesia yang profesional. Pernah menjadi tutor bimbel dan pelatihan untuk ikatan dinas.

Instagram: @s_nopiyanti

Facebook: Siti Nopiyanti

Blogger: sitinopiyanti.blogspot.co.id

Kode Konten: X236

 

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *