Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia UHAMKA (Nopi)

Hallo, Intipers! Pasti di zaman yang katanya udah now ini, ada kids yang mungkin masih doubting atau counfused dengan program studi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia, right? Ok, kalau gitu kita kenalan dulu, ya. Nama saya Siti Nopiyanti, biasanya dipanggil Nopi. Saya adalah mahasiswa semester 7 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA). Saya angkatan 2014 dan baru saja menyelesaikan KKL juga PPL. Kini, hari-hari saya adalah sebagai mahasiswa yang sedang dalam proses penyusunan proposal skripsi dengan diwarnai kegiatan lainnya, seperti menjadi Relawan Duta Literasi dan penulis freelance media online. Well, saya akan mengulas stereotip orang-orang mengenai prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia sekaligus mengenalkannya lebih dekat pada Intipers. Let’s check it out!

Stereotip mendasar atau yang paling umum dari orang-orang adalah, “Ngapain sih belajar bahasa Indonesia? Udah hampir seabad hidup di Indonesia emang belom lancar bahasa Indonesianya?”

Stereotip berikutnya adalah, “Hellow! Nggak bosen ketemu bahasa Indonesia dari SD sampe SMP? Segala di-UN-in pula. Gak usah ngambil jurusan bahasa Indonesia! Di jurusan lain juga bakal ketemu lagi sama bahasa Indonesia dasar.”

Your-ads-here

Dan yang berikutnya adalah, “Ngapain sih ngambil jurusan bahasa Indonesia? Mau jadi apa? Kerjanya nanti ngapain? Udah susah, buat apa?”

Stereotip yang pertama tentu tidak benar. Kita mungkin bisa berbahasa Indonesia tetapi bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar secara lisan di muka umum perlu mengasah keterampilan berbicara kita. Bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar melalui tulisan pun perlu mengasah keterampilan menulis kita. Nah, ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian mata kuliah yang dipelajari.

intipkuliah

Stereotip yang kedua, saya analogikan dengan salah satu hakikat bahasa yaitu dinamis. Begitu pula dengan disiplin ilmu yang dipelajari dalam bahasa Indonesia. Ketika di perguruan tinggi, bahasa Indonesia yang dipelajari pun semakin kompleks. Belum lagi, pada jurusan ini fokusnya terbagi tiga. Ada ilmu pendidikan (pedagogik), ilmu bahasa (linguistik), dan ilmu sastra. So, nggak lagi sama yang dipelajari kayak waktu kita sekolah.

Dan stereotip yang ketiga, saya akan menguji keyakinan Intipers dengan pertanyaan-pertanyaan. Jika arah karier mutlak mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia akan bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah, mungkin nggak anak bahasa Indonesia bisa jadi:

Moderator diskusi? MC yang fleksibel di berbagai acara (formal, semiformal, informal)? Jurnalis? Penulis-editor? Aktor-sutradara teater/film? Tutor yang dibutuhkan oleh calon taruna lembaga pendidikan kedinasan? Pegawai bank? Entrepreneur? Semua itu BISA SAJA. Asal ada kemauan, pasti ada jalan.

Pada prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, khususnya di kampus saya, skill berbicara kita akan diasah melalui mata kuliah keterampilan berbicara dan pewara (pembawa acara). Apalagi dengan asumsi kita sebagai calon guru, dituntut memiliki skill komunikasi yang baik maka sebagai mahasiswa kita semakin terpacu untuk mengasah keterampilan berbicara kita. Dan kalau kamu suka berorganisasi, di sini ada organisasi kemahasiswaan tingkat prodi, yaitu Hima PBSI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Setelah kamu mengikuti pelatihan kepemimpinan tingkat dasarnya, cara beretorikamu dijamin akan semakin keren karena di sini kemampuan berbicaramu akan semakin tajam diasah. Tidak hanya tentang skill beretorika, tapi menjadi percaya diri dan berwawasan luas menjadi paket yang tidak dapat dipisahkan di dalamnya. But, don’t u worry, Intipers. Kalau kamu mau melalang buana, banyak senior dan alumni yang mau berbagi ilmunya dan mengajarkan juniornya untuk menjadi mahasiswa yang tidak hanya memiliki satu warna keahlian saja. Ini sedikit pengalaman saya, ya Intipers. Saya pernah diamanahkan untuk menjadi moderator Diskusi Ilmiah Filologi, MC Festival Film dan Iklan, dan pembawa acara saat pembukaan sekaligus sosialisasi Sanggar Kreatif sebagai proker KKL yang diusung oleh saya dan teman-teman di Pandeglang, Banten. Meskipun awalnya sempat nervous, tapi karena udah pernah kenalan sama mata kuliahnya, jadi nggak perlu merasa canggung lagi di hadapan banyaknya audiences. Kalau udah biasa nge-MC pasti temen-temen nggak akan ragu nunjuk kamu jadi MC-nya. Dan kalau namamu udah terkenal suka nge-MC di mana-mana, biasanya akan dapet fee, lumayan kan buat nambah uang jajan kamu. Misalnya, dipanggil buat nge-MC di acara kantor ayahmu. Hehehe..

Saat pembukaan dan sosialisasi Sanggar Kreatif di Desa Alaswangi, Menes, Pandeglang-Banten yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat, warga desa setempat dan anak-anaknya.

Kalau tadi tentang retorika, let’s moving on mengenai tulis menulis. Kuy! Menjadi jurnalis dan penulis. Menjadi jurnalis yang bebas, citizen journalism jawabannya. Kalau tulisanmu lolos diseleksi oleh kurator, editor, atau redaktur, biasanya ada media yang akan memberikan fee untuk kontributornya. Di prodi ini, kamu akan diajarkan tentang keterampilan menulis ilmiah, sastra, dan jurnalistik. Keren kan? Dua keterampilan berbahasa tersebut (berbicara dan menulis) akan lebih gereget kalau kamu percaya diri untuk megaplikasikan ilmunya. Jadi berasa kayak anak ilmu komunikasi deh. Hehehe.. Kita juga akan diajarkan menjadi editor melalui mata kuliah keterampilan penyuntingan. Nah, buat kamu yang orangnya teliti banget dan nggak keberatan untuk memperbaiki kesalahan, sepertinya mata kuliah ini adalah kamu banget.

Saya pernah menjadi tutor akademik-bahasa Indonesia pada salah satu bimbingan belajar dan pelatihan yang didirikan oleh seorang polisi Kota Bekasi untuk persiapan seleksi penerimaan siswa di lembaga pendidikan ikatan dinas, khususnya Akpol dan SPN. Ketika passion dan kewajiban sudah menyatu, di sinilah kesempatan untuk unjuk kebolehan sebagai mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yang ber-value.

Tugas yang sering diberikan dosen, biasanya adalah makalah, resensi, presentasi-diskusi, observasi, studi kasus, dan studi lapangan. Jangan khawatir bakal sibuk kuliah dan nggak punya waktu buat travelling karena nggak menutup kemungkinan kamu akan beberapa kali ke luar kota bahkan pulau untuk penelitian. Ibarat pepatah bilang, menyelam sambil minum air, jadi penelitian sambil liburan. Hehehe..

Tugas yang paling berkesan adalah pementasan drama dan KKL. Meskipun ditimba sekelas, untuk menentukan peran masing-masing orang maka harus melaui audisi dahulu. Nah, di sini kamu akan mengenal lebih dekat potensimu, apakah di bidang seni, seperti aktor, sutradara, tim kreatif (dekorator panggung, penata rias, penata busana, penata cahaya/lighting); atau di bidang manajemen, seperti humas, asisten sutradara, produser, konsumsi, dan lain-lain. Dibandingkan saat tugas membuat film atau iklan, berteater adalah yang paling berkesan. Prosesnya benar-benar terasa, kekompakannya, kebersamaanya, apalagi ketika teater kelas kita berhasil menyabet penghargaan pada festival drama.

Tugas lapangan di prodi ini ada kuliah lapangan, penyuluhan, KKL, dan PPL. Kuliah lapangan biasanya penelitian ke luar kota kemudian mempresentasikan hasil penelitian kita dalam diskusi ilmiah. KKL lebih fleksibel dibandingkan dengan penyuluhan ataupun PPL. Cakupannya bisa pada bidang kebahasaan ataupun kesusastraan dan waktu yang didedikasikan juga lebih lama. KKL itu seru banget. Di sini hati kita akan tersentuh dan semakin bersyukur dengan fasilitas yang udah kita miliki di kota, tapi kalau KKL-nya di desa ya, hehehe.. Itung-itung sambil liburan dan bertualang. Nyuci di sungai, dikejar-kejar soang, mengajar anak-anak desa di padang rumput, bertegur sapa dengan warga yang ramah tamah. Unforgetable moment lah pokoknya.

Saya sebagai Penari Topeng Ireng dan teman saya sebagai pemeran tokoh Bapak sebelum pementasan Teater Dering Rembulan di Mata Ibu yang diadaptasi dari cerpen karya Asma Nadia pada Festival Drama PBSI UHAMKA yang bertema Wajah Prosa dalam Bingkai Drama Indonesia.

Saya dan rekan saya ketika menjadi MC pada acara Festival Film dan Iklan PBSI UHAMKA 2017 yang bertema Senandika Sandiwara dalam Tangkai Religi.

Prospek kerja setelah lulus itu banyak. Bisa menjadi guru atau tutor, pengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), pegawai bank, jurnalis, editor, penulis, dan lain-lain. Di era milineal ini, pemerintah sedang gencar-gencarnya mengusung budaya literasi di Indonesia. Nah, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia adalah salah satu jurusan hits yang dapat dijadikan wadah dalam menyumbangkan kontribusi literasi. Dan sebagai mahasiswa dari jurusan ini, saya mempunyai kewajiban dalam kontribusi literasi melalui Relawan Duta Literasi. Gimana Intipers? Masih meragukah dengan jurusan ini? Tanyakan pada hati kecilmu, ya! Hehe.. Semoga ulasan yang saya sampaikan ini bisa bermanfaat, ya.

Bagi kalian yang suka berkesenian (apresiasi sastra) sambil berlogika (bermain dengan bahasa), prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesialah jawabannya. Setiap tahunnya, program studi PBSI UHAMKA menyemarakkan bulan bahasa yang didukung oleh Hima PBSI UHAMKA dan Komunitas Vanderwijck, komunitas sastra yang ada di UHAMKA. Kamu akan menemukan banyak wadah untuk mengasah minat dan bakatmu di sini. Jadi kegiatanmu sebagai mahasiswa nggak monoton atau hanya sebatas jadi kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang).


Tentang Penulis: Siti Nopiyanti

Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UHAMKA Jakarta yang sedang menyusun proposal skripsi sambil menjadi kontributor freelance media online, menyelesaikan missi Relawan Duta Literasi, dan terus belajar menjadi guru bahasa Indonesia yang profesional. Pernah menjadi tutor bimbel dan pelatihan untuk ikatan dinas.

Instagram: @s_nopiyanti

Facebook: Siti Nopiyanti

Blogger: sitinopiyanti.blogspot.co.id

Kode Konten: X236

 

Your-ads-here

20 thoughts on “Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia UHAMKA (Nopi)”

    1. Hai, Nurfa Dilah. Standarnya 4 tahun masa studi, tapi juga tidak menutup kemungkinan bisa lebih cepat menjadi 3,5 tahun masa studi. Berdasarkan informasi dari Bagian Akademik dan Kemahasiswaan, program kelas karyawan sudah dua tahun ini tidak ada lagi di PBSI FKIP UHAMKA, jadi untuk saat ini hanya ada kelas reguler saja.

  1. Kak tanya dong. Aku kan mau ambil sastra indonesia, nah tapi ada yang nyaranin ambil jurusan lain aja. Katanya susah, terus mau jadi apa. Emang serumit itu kah kak?

    1. Hai, Atta. Menurut aku setiap jurusan punya bagian termudah dan tersulitnya masing-masing. Tergantung gimana kita ngejalaninnya. Kalau kita udah suka dengan apa yang kita pilih, sesulit apapun tantangannya, kita akan enjoy aja kok ngejalaninnya. Hehehe.. Sekadar info, aku bukan lulusan sastra Indonesia (sastra murni), melainkan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia (kependidikan). Jadi sedikit berbeda, ya. Hehe.. Untuk pertanyaan kamu “mau jadi apa lulusan sastra Indonesia?”, mungkin maksudnya gimana prospek kerjanya, ya. Yang aku pernah tau, untuk lulusan sastra Indonesia prospek kerjanya cukup luas kok. Bisa jadi copy writer, content writer, editor, penerjemah, peneliti sastra, budayawan, dll. Kalau boleh saran, menurut aku yang terpenting sebelum memilih jurusan adalah kita harus tau dulu motivasi terkuat kita atau alasan kita kenapa kita ingin menggeluti bidang tersebut dan apa tujuan kita, supaya kita lebih mantap dan yakin dengan pilihan kita. Dan setiap jurusan pasti punya prospek kerjanya masing-masing kok. Hehe..

  2. Kak kalau mau ambil jurusan pendidikan bahasa dan sastra indonesia mata kuliah nya itu apa aja sih ka kepo dikit dong

    1. Hai hai, Aulia. Terima kasih ya, Dear atas pertanyaannya. Kepo banyak juga gpp lhooo.. Santai aja ya. Hehehe.. Dalam prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, tentunya ada tiga ranah mata kuliah yg menjadi fokus utamanya, yaitu ranah kependidikan (pedagogik), ranah kebahasaan (linguistik), dan ranah kesusastraan (literatur).

      Mata kuliah yg ada dalam ranah kependidikan yaitu landasan pendidikan, psikologi perkembangan, bimbingan konseling, telaah kurikulum dan buku teks, strategi pembelajaran, rencana pembelajaran, pengembangan materi ajar, evaluasi pengajaran, administrasi dan supervisi pendidikan, dan magang di sekolah.

      Mata kuliah yg ada dalam ranah kebahasaan yaitu linguistik umum, sosiolinguistik, psikolinguistik, teori belajar bahasa, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, analisis wacana, analisis kesalahan berbahasa, keterampilan menyimak, keterampilan membaca, keterampilan berbicara, keterampilan menulis ilmiah, keterampilan jurnalistik, keterampilan penyuntingan, penyuluhan bahasa Indonesia, pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), dan pembawa acara (Pewara).

      Mata kuliah yg ada dalam ranah kesusastraan yaitu teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, sastra banding, khazanah sastra islam, kajian puisi, kajian prosa, keterampilan menulis sastra, kajian dan pementasan drama, penulisan skenario dan naskah iklan, dan filologi.

      Jadi, secara umum begitulah Dear mata kuliah yg dipelajari dalam prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.

  3. Kalau mata kuliah yg biasa di pelajarin di kampus itu ada mata pelajaran bahasa inggris ga.
    Trs yg mata kuliah yg menjadi fokus dan paling utama itu di pelajarinnya pas semester berapa ya

  4. Mata kuliah bahasa Inggris tetap ada.
    Masing-masing mata kuliah tersebut didistribusikan pada masing-masing semester mulai dari semester pertama sampai semester tujuh. Misal, untuk mata kuliah yang berfokus pada ilmu kebahasaan dan memiliki keterkaitan satu sama lain, semester pertama ada mata kuliah linguistik umum dan teori belajar bahasa; semester ke-dua ada mata kuliah fonologi; semester ke-tiga ada mata kuliah morfologi; semester ke-empat ada mata kuliah sintaksis dan penyuluhan bahasa; semester ke-lima ada mata kuliah semantik, sosiolinguistik, dan BIPA; semester ke-enam ada mata kuliah wacana dan psikolinguistik.
    Begitu pula dengan mata kuliah yang berfokus pada ilmu kependidikan maupun ilmu kesusastraan.

  5. Mustahil gak sih untuk orang seperti aku yang tidak terlalu suka membaca tapi ada kemauan dalam diri untuk masuk ke jurusan PBSI ini.. Bagaimana menurut pendapat kaka? Terimakasih.

    1. Hai, Safitri Aulia. Maaf slowres. Hehe.. Sebelumnya terima kasih yaa untuk pertanyaannya.

      Enggak ada yang mustahil, Dear. Bahkan mungkin. Sangat mungkin. Ketika nanti kamu kuliah, di juruasan apapun, kamu akan bertemu dengan momen di mana membaca menjadi sebuah kebutuhan yang tak terhindarkan. Entah itu kita hanya butuh point-pointnya sekalipun (dalam menganalisis novel, misalnya) tetap harus dibaca.

      Tapi gak perlu jipper, Dear meskipun kamu belum suka membaca. Kamu bisa memulainya dengan membaca bahan bacaan ringan yang kamu minati, cerpen misalnya.

      Sekadar sharing, jadi dalam mata kuliah kebahasaan ada empat keterampilan yang kita kenal, yaitu keterampilan membaca, keterampilan menyimak, keterampilan menulis (sastra dan ilmiah), dan keterampilan berbicara. Keempatnya saling berkorelasi. Dan kalau pun kamu gak terlalu minat dengan membaca, kamu masih bisa kembangkan skill kamu di ranah menulis ataupun berbicara (retorika).

  6. Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia sama jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia itu sama ga sih kak? Ditunggu responnya…

    1. Hai, terima kasih ya sudah mampir di artikel saya. Jika kita lihat dari penamaan jurusannya, bisa jadi mata kuliah yang akan kita pelajari pun akan berbeda. Sebelumnya boleh perkenalkan dulu, siapa nama kamu?

  7. Kak, apakah pbsi itu kuliahnya sibuk? entah itu sibuk karna tugas banyak misal, atau apapun itu yang ada di perkuliahan pbsi. apakah bisa bila melakukan kuliah sambil kerja misalnya?

    1. Hai, Tyas. Terima kasih sudah berkunjung ke artikel saya. Sibuk atau tidaknya perkuliahan itu relatif, Dear. Tergantung bagaimana program perkuliahan di kampus yang bersangkutan. Kalaupun kamu mengambil kelas reguler, masih memungkinkan kok untuk sambil bekerja paruh waktu setelah kelas perkuliahan selesai. Semangat, ya. ^_^

  8. Hi kak, aku agnia camaba 2020. Kebetulan aku ngambil prodi PBSI disuatu univ, alesan aku ambil prodi ini hanya karna suka membaca dan penikmat teater/drama. Aku sama sekali tidak bisa baca puisi, membuat cerita, dan tidak pandai berbicara didepan umum. Menurut kaka gimana?

    1. Ha hai, Agnia Nurul. Terima kasih atas pertanyaannya. Pertanyaannya bagus sekali. Tidak perlu khawatir, Dear. Kamu tidak diharuskan sudah mempunyai semua skill (keterampilan) yang berkaitan dengan materi pembelajaran di PBSI karena kita akan belajar semuanya dari awal (dasar). Learning by doing, learning by process. Ingat pesan saya, ya, Dear. Kamu bukannya tidak pandai, Dear, tapi mungkin hanya belum. Kalau kamu mau belajar dan mencoba lebih maksimal lagi, saya yakin skill apresiasi sastra, retorika, dan menulis kamu dapat berkembang lebih baik lagi dari hari kemarin. Satu lagi, terus asah dan kembangkan minat kamu, ya. Untuk menunjang hal tersebut, kamu bisa mengikuti UKM atau komunitas di luar kampus berkaitan dengan literasi maupun seni pertunjukan atau teater. Tapi pastikan tidak mengganggu aspek akademik atau proses perkuliahanmu ya, Dear. Semangat! ^_^

  9. Hay kak nama aku sitti tahun depan aku mau masuk jurusan pbsi, apakah di jurusan pbsi bisa lintas jurusan karna saya sma Dari jurusan IPA tapi saya menyukai Dan ingin menjadi Guru bhs indonesia

    1. Halo, Sitti. Sangat memungkinkan, kok, untuk lintas jurusan, terlebih di perguruan tinggi swasta. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan ada perubahan kebijakan dari masing-masing jalur seleksi yang ditempuh pada saat penerimaan mahasiswa baru di kampus yang bersangkutan, khususnya di perguruan tinggi negeri. 🙂

  10. Assalamu’alaikum, Halo kak Nopi, senang sekali bisa membaca artikel yang kak Nopi buat. Ini membuat saya sangat termotivasi. Saya mahasiswa tingkat dua yang berencana pindah jurusan kak, tentunya sesusai dengan artikel yang saya cari, kelebihan-kelebihan dan pengalaman dari kakak-kakak ini yang sudah mengalami sendiri berkuliah di jurusan PBSI. Saya ingin meminta pandangan dari kakak, alasan saya pindah jurusan dari jurusan yang sebelumnya karena saya tidak mampu memahami materinya dengan baik kak, karena faktor minat belajar saya yang sangat rendah di jurusan sebelumnya. Nah, kebetulan di kampus saya ada jurusan PBSI, entah kenapa saya memilih itu, memang awalnya didasari dengan anggapan bahwa kuliah di jurusan itu gampang, seperti yang kita ketahui kita telah belajar bahasa Indonesia sejak sd, smp, dan sma. Tapi saya sadar betul bukan berarti akan gampang ketika mengikuti studi di jurusan PBSI, saya berasumsi sebagian besar mungkin memang akan mudah dan tetap saja ada beberapa materi yang harus dipelajari secara khusus dan lebih mendalam. Benar tidak kak? Nah, kemudian muncul lagi dipikiran saya kak, kenapa saya memilih ini, atas dasar apa? Seperti yang dikatakan Agnia, mungkin mewakili pertanyaan inti saya pada komentar panjang ini. Bahwa saya juga tidak pandai dalam pembacaan puisi, buat cerita, & public speaking. hanya sekedar suka membaca dan menikmati drama, emm… sebenernya film, dalam hal ini menurut saya mungkin sama. Lagi-lagi jawaban itu sudah saya temukan ketika membaca jawaban dari kak Nopi yang ditujukan kepada Agnia. Kata kak Nopi, semua belajar dari dasar. Kata kak nopi juga mungkin bukan tidak pandai tapi karena belum, yang saya miliki cuma rasa kecintaan pada bahasa kak, saya termotivasi untuk memulai dari awal di PBSI. Nah dipenghujung komentar ini, saya mau bertanya satu pertanyaan lagi kak, apakah bisa dikatakan bahwa saya pindah jurusan ke PBSI itu karena pelarian?
    Mohon maaf yang sebesar-besarnya dan terimakasih sebanyak-banyaknya, semoga kak nopi selalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT. Wassalam.

    1. Waalaikumsalam. Hai hai, Fadel Fahreza. Wah, terima kasih, ya, Fadel, atas kesannya. Terima kasih juga untuk pertanyaannya.

      Apapun jurusan di perkuliahan, pasti akan ada sisi kemudahan, kesulitan, dan keseruannya masing-masing. Untuk tolok ukur kemudahan dan kesulitan pun tidak bisa disamaratakan bagi setiap orang, tergantung siapa yang menjalankannya, karena masing-masing orang memiliki potensi dan pengalaman yang berbeda-beda. Akan selalu ada benefit dan konsekuensi yang harus siap kita terima dengan penuh tanggung jawab di setiap jurusan apapun yang kita pilih.

      Perihal minat belajar, sebenarnya kembali lagi pada kita sebagai orang yang menjalankannya. Bahkan, ketika kita sudah di perguruan tinggi, aturan belajarnya pun akan jauh berbeda dengan saat kita masih sekolah. Kita disarankan untuk lebih proaktif dalam belajar. Kalau kita memang sudah menentukan pilihan dan siap berkomitmen pada suatu hal, saya yakin bagaimanapun caranya, kita akan tetap semangat untuk mempelajari hal tersebut, apapun kendalanya. Jika belum, coba tanya lagi pada diri kita sendiri, sudah sejauh mana kesiapannya untuk berkomitmen terhadap sebuah keputusan yang kita buat.

      Untuk mengetahui jurusan yang kita pilih itu sebagai pelarian atau bukan, mungkin kita bisa tanya pada diri kita sendiri. Kenapa kita ingin belajar di jurusan tersebut? Apa tujuan kita ingin mengembangkan diri di jurusan tersebut? Seberapa suka (antusias) kita dengan hal-hal yang ada di jurusan tersebut? Mampukah kita mengikuti dan menjalankan prosesnya? Nah, mungkin Fadel bisa coba tanyakan itu pada diri Fadel sendiri dan hanya Fadel sendiri yang akan tahu jawabannya. Karena dengan memiliki alasan yang kuat dan mengetahui tujuan yang jelas yang ingin dicapai, hal tersebut dapat membuat kita lebih fokus pada saat menikmati prosesnya.

      Kira-kira begitu insight yang mungkin bisa saya sharing dengan Fadel. Semoga bisa membantu, ya. Semangat! Doa yang sama juga untuk Fadel Fahreza. 🙂

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *