Farmasi USU (Ayu)

  • “Kamu kuliah di jurusan Farmasi ya? Tukang obat dong!”

Penasaran gak sih di Jurusan Farmasi kamu bakalan ngapain aja? Kalau iya, sini duduk dulu sambil dengerin cerita saya. Biar kamu tahu gimana gambaran selama kuliah di Farmasi hehe..

Oh ya, sebelumnya kita cerita banyak, perkenalkan nama saya Ayu Haryani Putri Sarlita. Kuliah di Fakultas Farmasi USU angkatan 2012. Kebetulan saya baru aja lulus dan ingin sedikit sharing dengan teman-teman Intip Jurusan sekalian.

Seperti kuliah pada jurusan lain, umumnya di Semester 1 kita belajar dari dasar lagi. Ada mata kuliah Matematika Farmasi, Fisika Farmasi, Kimia Dasar Farmasi, Kimia Organik, dan Biologi Sel. Gak cuma pelajaran SMA aja, ada juga mata kuliah yang farmasi banget seperti Farmasetika Dasar. Pada mata kuliah Farmasetika Dasar ini kita mulai dikenalin apa aja sih sediaan obat dalam farmasi, terus gimana sih cara nulis resep, cara baca resep, dll yang memang jadi dasarnya kita dalam meracik obat. Selain mata kuliah tadi, kita juga belajar tuh yang namanya Anatomi Fisiologi Manusia dan Botani Farmasi (mengenal anatomi fisiologi tumbuhan, bentuk selnya, dll).

Menurut saya, belajar di Farmasi itu ilmunya banyak dan luas banget. Sampai-sampai dosen saya dulu pernah berkata,, selesai studi profesi apoteker kita akan mendapar gelar Apt yang artinya Apapun (harus) tau hehe.. Itu dikarenakan kita belajar anatomi manusia dan patofisiologi seperti di kedokteran, belajar tentang anatomi tumbuhan beserta kandungannya seperti di pertanian, belajar analisis kimia secara kualitatif dan kuantitatif seperti di kimia, bahkan ada beberapa mata kuliah tambahan seperti teknologi sediaan veteriner (obat untuk hewan) dan psikologi komunikasi. Bukan cuma tentang obat untuk manusia aja ternyata..

Menimba ilmu di Farmasi juga menuntut kita untuk mau belajar lebih dalam terkait kimia, dan fisika. Layaknya kuliah di beberapa jurusan lain, di Farmasi juga banyak hafalannya lho! Bisa menghafal nama obat, mekanisme kerjanya, bahkan kita juga dituntut untuk bisa dalam berbahasa Inggris dan Latin. Bahasa Inggris diperlukan karena sebagian besar tugas di farmasi adalah men-translate jurnal internasional atau textbook yang nantinya akan dipresentasekan. Sementara untuk Bahasa Latin wajib kita pelajari sebagai pedoman beberapa istilah dalam menulis resep, bagian-bagian tumbuhan dan lain sebagainya. Kebanyakan sih tugas-tugas yang diberikan dosen adalah tugas presentase, ngerjain soal-soal perhitungan, menghitung dosis, cara membuat etiket obat, dll. Tidak hanya itu saja, ada juga tugas-tugas dari lab yang harus kita kerjakan seperti menjawab pertanyaan terkait judul yang akan dipraktikumkan. Nantinya pertanyaan ini akan diujikan (responsi) sebelum atau sesudah masuk lab. Ini berguna agar kita paham dengan apa yang akan kita praktekkan di laboratorium.

Kuliah dari awal sampai akhir, ada beberapa mata kuliah yang berkesan yang buat saya.yaitu Farmakologi dan Toksikologi (mempelajari mekanisme kerja obat), Patofisiologi (mempelajari gejala penyakit, penyebabnya), dan Obat Tradisional (mempelajari cara membuat sediaan obat dari tanaman berkhasiat obat). Kenapa berkesan? Karena Farmakologi dan Patofisiologi adalah mata kuliah yang saling berhubungan. Rasanya seru aja ketika kita tahu apa penyebab penyakit kita, bagaimana gejalanya lalu setelah itu kita mengetahui obat apa yang cocok untuk mengobati dan bagaimana mekanisme kerjanya. Untuk obat tradisional sendiri saya rasa cukup unik kalau kita tahu beberapa tanaman yang mempunyai khasiat obat dan baik sekali kalau dapat diaplikasikan ketika kita membutuhkan.

Selain kuliah ada beberapa lab juga yang begitu membekas di hati karena kenangan di dalamnya, yaitu di Lab Farmakologi, dan Lab Kimia Farmasi Kualitatif. Lab Farmakologi adalah lab yang cukup seru menurut saya. Semester 4, saya menjalani 2 lab yang menggunakan hewan percobaan, yaitu Lab Farmakologi menggunakan mencit dan tikus serta Lab Biofarmasetika yang menggunakan kelinci. Oleh karena lab ini menggunakan hewan percobaan, otomatis kami para praktikan juga harus menjaga hewan-hewan tersebut sampai hari praktikum, seperti dengan memberi makan, menjaga kebersihan kandang, dll. Bayangkan ketika kita sudah sibuk mengurus diri sendiri, kita juga harus menjaga si hewan kesayangan. Kebetulan saya suka melihat hewan-hewan itu saat makan. Jadi, tidak masalah untuk saya ketika dapat jadwal memberi makan. Oh ya, ngomong-ngomong, ada beberapa kejadian yang masih teringat selama mengurus kelinci tersebut. Waktu itu kebetulan jadwal praktikum Biofarmasetika telah selesai. Saya mengajukan diri untuk membawa pulang kelinci percobaan. Ketika di rumah sesekali Ibu saya melepas kelinci tersebut dari kandangnya agar dia tidak bosan. Ibu bilang, manusia aja dipenjara bosan, apalagi kelinci. Nah, biasanya si kelinci ini akan pulang ketika dilepas. Namun, pada saat dilepas di hari berikutnya kelinci tersebut tidak pulang. Karena sudah beberapa hari di rumah Ibu saya cukup sedih saat itu. Saking sayangnya terhadap si kelinci bahkan saya pernah dimarahi ketika telat memberi makan kelinci tersebut. Sayang, si kelinci sudah menghilang..

Ada juga cerita di Lab Kimia Farmasi Kualitatif. Disini kita akan merasakan serunya tebak-menebak sampel yang kita dapat kemudian diuji dengan pereaksi. Sampel tersebut akan memberikan warna yang merupakan ciri khasnya atau tidak memberikan warna sama sekali. Inilah yang biasanya membuat bingung dalam menebak sampel tersebut. Salah 3 kali, kita bisa mengulang percobaan ini di hari lain. Cukup menegangkan, bukan?

Di akhir pertemuan praktikum, kami merayakannya dengan makan kue dan foto bersama. Kelihatan banget kan, wajah bahagianya?

Di Universitas Sumatera Utara sendiri, ada dua konsentrasi, yaitu Sains dan Teknologi Farmasi (STF) dan Farmasi Klinis dan Komunitas (FKK). Bedanya kalau di STF kita difokuskan untuk belajar bagaimana cara buat sediaan obatnya, sedangkan di FKK kita difokuskan untuk bagaimana memberi pelayanan penggunaan obatnya ke pasien.

Sewaktu bimbingan belajar persiapan SNMPTN Tulis, tentor saya pernah bilang “Dek, di jurusan Farmasi itu kuliahnya pagi, lho! Jam 7 kamu udah harus di kampus, kuliah. Habis kuliah siangnya kamu lanjut praktikum, ngelab sampe sore. Malamnya kamu pulang masih harus nulis laporan lagi” Waktu itu saya cuma manggut-manggut aja. Saya memang minat di bidang kesehatan sih hehe. Kebetulan kakaknya dari Ibu saya juga lulusan Farmasi. Jadilah saya diarahkan kuliah disini dan ternyata memang sesuai dengan minat saya. Dari kuliahnya yang cukup padat, tentu ini bisa jadi masalah untuk kamu yang memang tidak minat di jurusan ini. Sebagai mahasiswa Farmasi kita ga cuma dituntut tahan belajar tapi juga harus punya fisik serta mental yang kuat karena padatnya jadwal kuliah tadi, Untuk beberapa teman atau keluarga yang belum paham gimana lelahnya kehidupan mahasiswa farmasi, pasti cukup heran kita dikampus ngapain aja. Kok pergi pagi pulang malam. Padahal memang jadwalnya yang seperti itu. Tapi, tenaang, ga di Farmasi aja kok yang merasakan seperti ini. Beberapa teman kita di jurusan Biologi, Kimia, Teknik atau Pertanian pasti paham sama kegiatan praktikum dan nulis laporannya itu. Jadi, kuliah ini memang ga ada yang gampang, sahabat Intipers..

Sekarang udah tahu dong gambaran asam manisnya kuliah di Farmasi? Mungkin setelah ini kamu juga berpikir, “Ih, ngapain kamu milih kuliah di Farmasi, Entar mandul lho! Soalnya mainnya kan bareng bahan-bahan kimia mulu!” Eits, jangan salah. Buktinya kakaknya Ibu saya aman-aman aja kok. Bahkan beliau sempat cuti melahirkan selama masa studi apotekernya. Beberapa dosen di kampus juga begitu. Senior saya juga baru menikah, aman-aman aja tuh. Toh di laboratorium kita juga ada disiplinnya kok. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saat memasuki lab yang memang banyak menggunakan bahan kimia kita harus memakai sarung tangan dan masker. Kita juga tidak boleh makan atau minum sembarangan selama di lab. Kalau saja kita kedapatan tidak mematuhi peraturan yang ada di lab, kita bisa dipulangkan dan tidak jadi praktikum. Selesai lab kita juga harus minum susu untuk menetralisir bahan-bahan kimia yang mungkin terhirup selama kita praktikum. Intinya, itu semua balik ke diri kita sendiri. Tergantung pintar-pintar kita menjaga diri, Intipers..

Selesai menamatkan studi di S-1 kita bisa memilih mau lanjut kemana. Bisa lanjut kerja, S-2 atau program profesi Apoteker. Tergantung kamu nanti mau milih kemana. Kalau kamu mau lanjut profesi biasanya kamu akan kuliah lagi selama setahun. Trus, untuk prospek kerjanya gimana? Prospek kerja lulusan Farmasi bisa dibilang cukup besar, nih. Kalau dari pengalaman kakaknya Ibu saya, beliau sudah bekerja di Badan Pengawas Obat dan Makanan, penanggungjawab apotek dan mengajar di SMF bahkan di kampus juga. Apoteker gak hanya kerja di apotek kok. Beberapa alumni yang saya kenal juga telah bekerja di rumah sakit, industri obat-obatan (PT. Bayer), industri kosmetik (PT. Victoria Care), juga industri makanan (Nestle).

Jadi, gimana? Siapkah kamu kuliah di jurusan Farmasi?

Semoga bermanfaat ya, Intipers!

Kode Konten : X176‍

Ayo tanya ka Ayu disini. Kami akan kirim balasan ke email kamu :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *