Sosial Ekonomi Pertanian Unbraw (Nikmah)

Hallo, Sobat Intipers? Semoga selalu semangat menjalani hari ya.

Perkenalkan, namaku Anisatun Nikmah. Aku  punya banyak nama panggilan tapi kalian bisa panggil aku dengan Nikmah. Saat ini, masih menempuh semester tujuh di Universitas Brawijaya jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Ada yang tahu jurusan itu? Nama kerennya Agribisnis. Hehe….

Kalian mungkin akan kebingungan, jadi namanya yang mana? Nih, kukasih tahu ya sobat-sobat Intipers yang berbahagia  bahwasanya Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, jurusan merupakan bagian dari program studi. Jadi, program studinya Agribisnis dan jurusannya Sosial Ekonomi Pertanian. Meskipun ga begitu berpengaruh sih karena jurusannya cuma satu hehe….

Oh, anak pertanian?

400

Hmmm, kalau bicara tentang pertanian kebanyakan (saya ga bilang semua lho, ya) mungkin akan berpikiran tentang dunia kotor (hihi, emang ada dunia suci?) yang kerjanya bergemul dengan tanah. Eits, kamu ga sepenuhnya salah kok (hihi). Nih, ya kalau kalian cermati dari nama pertanian aja, pasti akan nyemplung ke tanah tapi tenang ga sampai guling-guling kok (hehe).

Begini, sebelum mengenal lebih jauh tentang “Agribinis” saya ingin kalian mengenal perkuliahan pertanian secara umum terlebih dahulu. Tulisan ini ditulis juga dalam rangka meluruskan pemikiran Intipers tentang kuliah di salah satu jurusan rumpun  agrokompleks. Sebagai salah satu mahasiswa pertanian, saya ingin mengatakan bahwa pertanian itu tidak segampang yang orang bayangkan. Tinggal nyangkul ngapain kuliah? Dibully atau dicemooh? Jangan tanya, sering banget. Wah, kok ga enak gitu? Sebenarnya masing-masing jurusan punya sisi ga enaknya kok. Nah, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tapi percayalah, semua orang butuh makan artinya semua orang butuh anak pertanian (berarti si dia juga membutuhkan saya, hehe)

follow_intipjurusan_COMPRES

Nah, Intipers. Sebelum masuk pertanian, saya tidak pernah tahu kegiatan mencangkul atau mencabuti rumput akan berpengaruh besar pada keberlanjutan bumi. Cara mencangkul akan berpengaruh pada pengolahan tanah dan berpengaruh pada jumlah produksi. Mencabuti sembarang rumput akan berpengaruh pada hilangnya rumah hewan-hewan yang memberikan manfaat pada lingkungan seperti penyerbukan atau pengendalian hama. Nah, kalau serangganya berkurang, lalu pengendalian hama pakai pestisida. Nah, yang perlu kalian tahu pestisida ini semacam candu  buat tanaman, tanah dan serangga yang bersifat merusak kalau penggunaannya salah kaprah. Belum lagi, kalau pestisidanya masuk ke jaringan tanaman yang kalian makan? Bukan cuma lingkungan yang rusak tapi juga konsumen. Masalah di tersebut  baru satu dari sekian banyak permasalahan yang dibahas di dunia pertanian. Belum lagi masalah berkaitan dengan sosial budaya masyarakat dan berbagai kebijakan. Jadi, sobat Intipers berhenti berpikiran sempit tentang dunia pertanian. Kalau ada yang beda pendapat atau kurang jelas, mari berdiskusi. J

Sudah mengenal sang bapak(baca : pertanian), mari mengenal salah satu anaknya yang bernama “Agribisnis”. Agribisnis berasal dari dua kata yaitu Agriculture yang berarti pertanian dan bisnis yang berarti usaha perdangangan barang dan jasa. Dari kata agriculture bisa dipecah menjadi agri yang artinya tani dan culture yang berarti budaya. Artinya pertanian tidak lepas dari budaya yang berkaitan dengan fenomena sosial. Nah, sampai sini sudah paham kenapa nama jurusannya “SOSIAL EKONOMI PERTANIAN”. Kalau masih belum paham, kita intip dari pengertian Agribisnis dari KBBI. Agribisnis adalah bisnis usaha berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukung baik di sektor hulu maupun hilir. Jelas?

Hal yang perlu digarisbawahi adalah kata dari hulu ke hilir yang berarti aspek saprodi (sarana produksi), usahatani, panen dan pasca penan, pemasaran dan didukung dengan lembaga terkait seperti keuangan. Masing-masing dari sub sektor itu pasti berkaitan dengan kondisi ekonomi, fenomena sosial masyarakat dan manajemen pertanian. Yap, semua pengetahuan yang berkaitan dengan sektor-sektor tersebut dipelajari di Agribisnis, Universitas Brawijaya. Jadi, anak agribisnis tetep bisa asyik diajak ngobrol masalah sosial, manajemen atau ekonomi.

Jadi, kalian yang berminat masuk ke Agribisnis, Universitas Brawijaya bersiaplah menjadi agen perubahan dengan paket komplit hehe…. Saya akan coba sedikit bahas mengenai gambaran apa yang akan dipelajari dalam jurusan ini. Saat ini, ada lima laboratorium yang ditawarkan yaitu lab ekonomi dan pembangunan pertanian, lab manajemen produksi dan operasi, lab manajemen finansial dan pemasaran, lab sosiologi dan pemberdayaan masyarakat dan lab komunikasi penyuluhan agribisnis. Berbeda dengan universitas lain yang sudah membagi menjadi beberapa jurusan spesifik, kita mempelajari semua lab tersebut sampai tahun ketiga ditambah dengan beberapa mata kuliah dari program studi agroekoteknologi yang bisa mendukung agribisnis seperti dasar budidaya tanaman, dasar penyakit tanaman, dasar ilmu tanah, teknologi produksi tanaman serta survei tanah dan evaluasi lahan. Jadi, jangan kaget ya, kalau kalian akan dituntut untuk bisa menghafal dan berhitung dalam satu semester yang sama.

Fokus belajarnya banyat banget. Kalau kerjanya nanti dimana? Hmmm… saya anggap Intipers sudah paham pertanian itu luas, ya. Jadi, anak agribisnis bisa membuka menjadi entrepreneur dengan membuka usaha di bidang pertanian, contoh suksesnya Bob Sadino atau Chairul Tanjung. Anak agribisnis juga bisa jadi duduk sebagai pemangku kebijakan, contohnya Pak Jokowi sebagai alumni kehutanan yang merupakan salah satu rumpun pertanian. Kita juga bisa masuk dalam dunia perusahaan bidang agribisnis seperti perusahaan manufaktur berbasis pertanian, contohnya perusahaan pupuk, mie instan, atau jasa ekspedisi agribisnis. Alumni kita juga banyak diterima kuliah di luar negeri lho. Jangan salah, pertanian menjadi salah satu bidang studi yang sangat dihargai di luar negeri. Hehe…

Sudah jelas apa saja yang dipelajari? Dari semua mata kuliah itu, menurutku mata kuliah yang paling berkesan yaitu pemberdayaan masyarakat dalam agribisnis (PMDA). Mata kuliahnya tersebut diajari bagaimana berpikir kritis bersama masyarakat untuk menemukan solusi sesuai kemampuan dan keinginan mereka. Nah, mata kuliah ini cocok untuk persiapan menghadapi masyarakat sebenarnya. Kelas kami mendapatkan proyek membuat hidroponik untuk memanfaatkan dana desa dengan memberikan kegiatan produktif pada karang taruna.

Seru kan? Masih ada keseruan yang lain. Hampir setiap hari kami liburan ke desa-desa, lahan sampai perusahaan atau UMKM meskipun atas nama survei lapang atau praktikum hehe… Kami pernah ke desa terpencil untuk mencari permasalahan petani dan mengevaluasinya atau pernah ke pusat kota untuk mencari UMKM. Beberapa mata kuliah juga mewajibkan kami keluar kota untuk kunjungan lapang. Kalau masalah jalan-jalan kami sudah melalui dari mendaki gunung lewati lembah (hehe..) sampai menelusuri seluk beluk kota karena tugas lapangan tidak hanya tentang lingkungan fisik pertanian tetapi juga masyarakat. Kalian juga ga akan pernah bosen karena Kota Malang punya banyak tempat wisata dari alam sampai buatan.

Selain itu, ada lagi tugas perencanaan iklan dalam mata kuliah perilaku konsumen. Pernah kepikiran ga sih, kalau iklan-iklan dan atribut yang melekat di toko memiliki makna. Contohnya, kenapa warna salah satu rumah makan cenderung selalu merah? Jawabannya karena terkait aspek psikologi dari konsumen agar mendorong rasa lapar. Eits, itu baru segi warna belum dari sisi letak atau suasana yang coba dibangun. Kalian akan sadar betapa complicated- nya perancangan bisnis. Beberapa mata kuliah juga menghasilkan produk-produk kreatif yang bernilai jual.

Intinya tugas yang diberikan di jurusan ini rasanya nano-nano hehe…

Sekian pemaparan singkat tentang agribisnis, fakultas pertanian, universitas brawijaya. Semoga bisa memberikan jawaban dari pertanyaan “kepo” kalian hehe…

Salam hangat dari bumi Arema.


@nistmah

Kode Konten: X266

 

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *