Seni Rupa Murni ISBI Bandung – Biru

Halo, aku Biru Aulia Birrul Walidain, biasa dipanggil bir/biyu/biw/kuning/apapun aku terima. Aku mahasiswa Seni Rupa Murni di INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) Bandung, yg dulunya Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Aku angkatan 2014, dan sekarang merupakan tahun ketiga aku kuliah disini. Penasaran ga sih kerjanya mahasiswa seni murni tuh gimana? Aku mau bagi-bagi pengalaman nih. Tapi disini pengalaman yang aku alamin aja, jadi mungkin beberapa orang dari jurusan yang sama bakal beda pendapat sama aku hehe

FYI nih ya, di beberapa jurusan itu ada yg namanya TPB atau Tahap Persiapan Bersama. TPB ditujukan buat mahasiswa tingkat satu, di TPB tuh kita belajar MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) dan dasar-dasar seni rupa (kalo di jurusan seni rupa/murni). Syarat untuk lulus TPB tingkat 1 adalah lulus mata kuliah dasar seni rupa dan mengadakan pameran hasil perkuliahan TPB. Nah, setelah lulus dari  TPB, kita sebagai mahasiswa seni rupa murni di ISBI menentukan fokus studi untuk memulai studio. Disini kita mulai menentukan akan lulus sebagai apa dari ISBI. Di ISBI, fokus studi seni rupa murni dibagi menjadi Seni Lukis dan Seni Patung. Asumsi publik mengenai seni lukis dan patung rata-rata adalah negatif. Satanis lah, pembuat berhala lah, dan banyak lagi yang mempercayai bahwa yang kami lakukan di jurusan ini adalah sebuah dosa wkwk. Dan ini terjadi di keluarga aku saat mereka tau aku ngambil fokus studi seni patung. Beberapa yang memang ngerti seni mendukung pilihan aku, dan beberapa berpendapat “kan gaboleh bikin ciptaan Allah, kan dosa bikin patung,dsb”. Believe me, kita di jurusan seni rupa murni itu ga melulu bikin ciptaan Allah. Selain pendapat mengenai seni dan agama, banyak orang berpendapat bahwa kuliah di jurusan seni tuh asik, santai, gaperlu mikir, ga ada itung-itungan, dsb. Dan itu semua jarang banget kita rasain selama perkuliahan. Emang sih kita ga belajar matematika, fisika, tapi jangan salah loh, kita di seni patung juga ngitung skala, dan setiap karya yang kita bikin itu butuh perhitungan. Gak sebebas-bebasnya karya.Kuliah di seni rupa murni pun ga melulu praktik. Kita juga belajar teori-teori seni rupa yang gak kalah asik sama teori-teori ilmu pasti.

Foto pameran TPB

Untuk mata kuliah teori seni, di tingkat 2 itu kita belajar Sejarah Seni Rupa Indonesia, Estetika Timur, Estetika Barat, Sosiologi Seni, dan Sejarah Seni Rupa Barat. Di tingkat 3 kita belajar Komunikasi Seni, Tinjauan Seni, Kritik Seni Rupa, Manajemen Seni Rupa, Wirausaha Seni, Seminar dan Pengantar Semiotik. Yang paling berkesan buat aku adalah Pengantar Semiotik. Semiotika adalah ilmu membaca tanda. Di perkuliahan ini kita belajar membaca tanda-tanda yang terdapat pada sebuah karya seni. Kita meneliti mengapa warnanya demikian, mengapa bentuknya demikian, dan berbagai hal yang terdapat di karya seni. Tidak sembarangan meneliti, tapi ada ilmu-ilmu semiotik yang kita pelajari terlebih dahulu. Berasa jadi detektif kalo ngerjain tugas semiotik hihi.

Nah itukan mata kuliah teori seni, dikit kaaan? Sekarang ada mata kuliah praktik. Di tingkat 2, kita belajar Drawing, Studio Patung 1 (membuat patung manusia dengan ukuran sebenarnya), Pengenalan Bahan Seni Patung, Fotografi, Ornamen, Studio Patung 2 (waktu jaman akusih bikin patung hewan mitologi/perkawinan beberapa binatang gitu, ukuran besar juga), Seni Monumental 1 (membuat karya seni pada interior ruang publik), dan Seni Batik (belajar bikin batik tulis, tapi motifnya bebas sesuai yg kita mau). Di tingkat 3, kita belajar Studio Patung 3 (pahat kayu dan pahat batu), Seni Monumental 2 (membuat karya seni pada fasad/bagian depan bangunan publik), Seni Keramik (dasar-dasar teknik dalam pembuatan keramik), Studio Patung 4 (membuat karya konseptual dengan media keramik), Seni Monumental 3 (membuat karya seni di ruang publik, misalnya di taman), dan Teknik Presentasi. Yang berkesan buat aku dari mata kuliah praktik sih semuanya! Aku bingung kalo disuruh milih yang paling berkesan dari sini, soalnya di setiap matkul kita pasti belajar bikin sesuatu yang baru, dengan cara yang baru, media yang baru, dan bisa kita jadiin karya seni kita sendiri.

400
Foto bareng temen satu angkatan abis penilaian tugas studio

Kalo diliat mata kuliahnya kaya gitu kan kayanya asik ya, tugas-tugas bisa jadi karya. Tapi bayangin kalo dalam satu semester kalian punya 3-4 mata kuliah praktik yang masing-masing harus menghasilkan karya, ditambah lagi matkul-matkul teori dengan tugas-tugas penelitiannya. Ampir semua dari matkul teori tuh tugasnya bikin makalah atau penelitian, kadang kita jalan-jalan bareng ke sebuah pameran dan mengulas salah satu karya seni yang dipamerin di pameran itu (dalam bentuk laporan). Sebenernya aku gasuka-suka banget sih sama tugas yang gini, tapi konteks yang dibahas di dalemnya yang bikin aku semangat bikin laporan-laporan gini.

Untuk fokus studio patung, tugas-tugas studio kita tuh gabisa dibawa pulang kaya lukisan, karya kita yang cenderung berat dengan ukuran besar ga memungkinkan banget buat dibawa pulang. Resiko jadi anak patung di ISBI tuh, bakal sering lembur di kampus sampe nginep berhari-hari, dan jadi cewe satu-satunya di satu angkatan. Selain itu, kita juga harus rela kalo misalkan tangan luka-luka kena palu, kena gergaji, dan kena alat-alat lainnya, jadi anak patung juga harus kuat fisik dan mental. Kadang kita harus merubah banyak hal dari tugas kita dalam satu malam aja.  Selain tugas studio yang gabisa dibawa pulang, kita juga ditugasin bikin maket untuk matkul monumental. Di matkul ini kemampuan berhitung kita sangat dibutuhkan haha. Kita harus ngukur bangunan asli yang kita pakai untuk perencanaan pembuatan karya, dan kita perkecil pake skala. Sebelum bikin maket pun bikin gambar kerjanya. Ga jauh beda sama yang dipelajarin arsitek atau anak-anak interior eksterior. Sebenernya belajar bikin gambar kerja dan maket tuh biar nanti di dunia kerja kita udah ngerti caranya baca gambar kerja dan maket, soalnya kita sebagai seniman juga kan pasti kerjasama sama arsitek kalo urusan bikin monumental. Kalo matkul praktik lain sih aku anggap sebagai refreshing dari tugas monumental dan studio :’)

Sejauh ini, matkul yang paling berkesan buat aku adalah studio, semiotik, dan kritik seni rupa. Kenapa? Di studio kita belajar dari mulai kenal sama tanah liat, bikin-bikin bentuk dari tanah liat, belajar mahat, sampe menciptakan sendiri karya sesuai dengan konsep kita. Di studio inituh kita bener-bener belajar dasar-dasar seni patung sampe belajar jadi seniman patung tuh gimana. Selain itu, yang aku seneng di studio patung tuh dosen-dosen kita yang cenderung masih aktif berkesenian sering ngundang temen-temennya saat penilaian tugas studio. Kadang dosen kita tuh bawa temennya yang udah jadi kurator, kadang juga bawa dosen-dosen lain dan kita mempresentasikan tugas kita di depan mereka, mulai dari bentuknya, medianya, teknisnya juga. Di semiotik, kaya yang udah aku jelasin, aku berasa jadi detektif dan aku seneng banget kalo bisa mengungkap hal-hal tersembunyi di balik sebuah karya haha. Terakhir nih di kritik seni rupa, aku seneng karena Cuma aku yang dikasih nilai 3.2 dan itu tertinggi di kelas hahaha. Dosen kritik seni rupa tuh dosen senior di ISBI, pa Bambang Sapto. Dia ga ngasih tugas harian, Cuma kita harus nyatet hal-hal penting yg dia kasih ke kita di setiap perkuliahan. Catetan-catetan perkuliahan itu nanti kita ketik dan menjadi syarat buat dapetin soal UTS dan UAS.

follow_intipjurusan_COMPRES

Ngomong-ngomong soal studi lapangan nih, di studio patung, awal perkuliahan matkul pengenalan bahan tuh kita keliling galeri yang ada di Bandung. Kita diskusi tentang material-material patung yang kita liat. Selain itu, di perkuliahan lain pun kadang kita dateng ke pameran rame-rame (sama dosennya juga). Selain dateng ke pameran, kita juga ngadain pameran di setiap akhir semester. Satu lagi yang bikin aku makin sayang sama dosen seni rupa murni ISBI tuh, mereka punya banyak link ke luar negeri, dan mereka bikin program kerjasama gitu sama link-link yang mereka punya. Kerjasamanya berupa pameran, dan menjadi tradisi turun temurun. Di tingkat 2 kita berpameran di Malaysia, di tingkat 3 kita berpameran di Jepang. Taun kemarin aku sama temen-temen udah ngadain pameran di Malaysia, sekarang giliran adik tingkat kita yang ke Malaysia, dan giliran aku sama temen-temen pameran di Jepang (doain ya berangkat bulan Juli hihi).

Foto bareng tim pameran Malaysia

Lulusan dari seni rupa murni biasanya meneruskan studi s2 untuk kemudian jadi dosen, kerja di bawah seniman besar, atau jadi seniman, atau apapun yang dikehendaki mereka J. Oh iya kalo ada yang mau ditanyain bisa langsung komen aja dibawah yaa..

Biru Aulia Birrul W.

Kesibukan penulis saat ini bikin acara lomba gambar & mewarnai untuk tk-sd, memperbanyak pameran demi cv, dan bersosialisasi dengan orang banyak.

Kode Konten : X131

16 thoughts on “Seni Rupa Murni ISBI Bandung – Biru”

    1. Hai! Tes wawancara biasa sih, kek asal darimana, tinggal dimana, kenapa pen masuk isbi. Gt gt ajasih 😊

    1. Kalo di ISBI sendiri biasanya kita dikasih 2 option cerita, naah kita disuruh bikin ilustrasi tentang cerita itu 🙂

  1. Tapi kak katanya ada yang bilang tes yang seni murni itu gambar realis trus kalo yang seni kriya itu baru yang ilustrasi gitu itu kata angkatan tahun kemarin

  2. Ka, klw misalnya tes pengetahuan seninya wawancara atau tulis? Terus materi pengetahuan seninya sekitaran kaya gmn?? Mksh.

    1. hai! maaf baru sempet bales nih 🙂
      pengetahuan seninya itu tertulis kok, sekitar unsur-unsur dasar seni rupa, terus beberapa aliran seni, sama tokoh-tokoh seniman juga 🙂

    1. Ngga ko, yg tes fisik itu buat seni pertunjukkan, biasanya kalo mereka tes fisik kita wawancara/udah beres

  3. ka mau nanya kalau wawancara kemampuan seni itu apa seperti pengetahuan seni lagi atau seperti apa ya? sama kalau jurusan tata rias busana menggambar sketsa nya sama seperti jurusan lain atau gimana ya ka? terimakasih

  4. Halo, Kak! Mau bertanya, kalau masuk jurusan seni rupa murni tanpa basic skill apa2, kira2 nekat gak ya? Soalnya saya cman bisa gambar kartun amatir aja, tpi pengen masuk jurusan seni. Mohon bantuan jawabannya ya Kak!

    1. Kalo gitusih ya nekat banget! 😂😂. Bisa gambar kartun berarti kamu punya skill dong, tinggal dilatih aja terus. Saran akusih kalo mau di seni coba belajar ke arah yg laen juga, misalnya gambar realis, ato minimal kamu belajar anatomi tubuh manusia/hewan itu gimana, proporsinya gimana. Soalnya pas masa masa TPB di seni murni itu kita gabisa pake gambar kartun. Kita belajar anatomi yang sebenarnya, walaupun gambar kita ga realis realis amat. Masih ada waktu buat belajar kan? Coba deh kamu mulai gambar2 manusia/hewan dengan proporsi yg bener. Coba juga gambar2 still life (bisa cari di internet maksudnya apa)

  5. Klo Kakak gak keberatan, boleh minta LineID atau Whatsapp? Saya ingin meminta pendapat dri yg lebih tau jurusan seni, Kak hehe. LineID saya : @mitten_mei2259

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *