Pendidikan Luar Biasa UNS (Insani)

Assalamu’alaykum, halo semuanya. Salam hangat dan cinta dari salah satu mahasiswa tingkat akhir Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, tepatnya dari program studi istimewa. Pendidikan Luar Biasa atau Pendidikan Khusus, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS). Sebelumnya salam kenal, namaku Insani Miftahul Janah, biasa dipangil Iin kalau di rumah, sedangkan di kampus biasa dipanggil Insani. Tahun ini, aku hampir memasuki tahun keempat menyandang status mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Luar Biasa UNS. Sebagai calon pendidik anak-anak istimewa, aku resmi diterima sebagai mahasiswa UNS pada tahun 2014. Menjadi suatu kebanggaan, bahkan seolah mimpi setiap kali aku melewati gerbang depan kampus. Apalagi mengenyam dunia perkulian di program studi Pendidikan Luar Biasa.

Hampir empat tahun silam,ketika aku kebingungan ingin kuliah namun bingung mau ambil jurusan mana. Hingga akhirnya, tiba-tiba ingin ambil jurusan ini. Bukan sebagai prioritas pilihan utama, akan tetapi menjadi urutan ketiga. Meskipun begitu, dari dua pilihan lainnya, jurusan Pendidikan Luar Biasa yang paling membuatku yakin dan menjadi motivasi untuk mengejar studi lebih lanjut. Alasanku mengambil jurusan ini dilatarbelakangi dua hal utama,dikarenakan aku menyukai dunia anak dan ingin melakukan kebaikan dalam profesi yang nanti akan aku kerjakan di masa depan. Selain itu, akuy juga menyukai hal baru dan tantangan.

Sekiranya sampai menginjak kelas XII SMK, aku tak pernah melihat secara langsung anak berkebutuhan khusus. Hingga suatu siang hari, saat aku menunggu bis pulang sekolah. Di sudut warung kulihat ada tiga anak berdiri mengenakan baju putih biru. Mereka saling berkomunikasi, namun melalui gerakan tangan dan mimik yang menurutku unik. Mulai saat itu aku penasaran dan memunculkan banyak pertanyaan, seperti Bagaimana mereka belajar? Bagaimana orang disekitarnya memperlakukan mereka? Dan, Apakah mereka telah merasakan diperlakukan secara adil?. Peristiwa tersebut juga yang mendoron aku memilih Program Studi Pendidikan Luar Biasa di UNS.

Ketika aku melihat pengumuman penerimaan mahasiswa melalui SBMPTN, rasanya begitu senang dan cukup terkejut. Meski kemudian banyak orang disekitarku bertanya-tanya dan muncul berbagai respon yang bervariatif. Semisal, kuliah di jurusan seperti itu mau jadi apa? Gimana peluang kerjanya? Bukannya susah ya? Terus gimana cara mengajarnya? Jurusan Pendidikan Luar Biasa itu apa? Oh jadi guru yang mengajar anak-anak cacat gitu ya, mbak, dan berarti bisa dong bahasa Isyarat. Serta sederet pertanyaan lain yang unik-unik, dimana perlu dijelaskan tiap kali bertemu orang baru yang sama sekali belum mengetahui. Bahkan pertanyaan dan pernyataan seperrti itu masih kerap muncul hingga kini. Tentu ada yang memberi respon positif juga respon negatif. Salah satu respon positif yang begitu aku ingat sampai sekarang sekaligus motivasi untukku, ialah dari guru Bahasa Inggris di SMK yang kini telah paripurna. Beliau berkata, “Wah, bagus itu mbak. Butuh kesabaran yang luar biasa pula. InsyaAllah pekerjaan yang mulia, bekerja sekaligus berbagi kebaikan dan kebermanfaatan untuk menolong orang”. MasyaAllah rasanya makin yakin waktu itu.

di-web

Dengan beragam respon yang bermunculan, tentunya juga bermula dari asumsi yang muncul di benak masyarakat. Salah satunya ialah, bahwa semua mahasiswa Pendidikan Luar Biasa sudah pasti bisa berbahasa isyarat. Maka aku jawab, memang bisa namun tidak semua, dan kalau pun bisa belum tentu ahli pula. Karena, untuk belajar Bahasa Isyarat bukan-lah hal mudah. Alasannya sama seperti bahasa tiap daerah di Indonesia yang berbeda-beda, begitu pula pada bahasa isyarat. Sedangkan, kalau mau mahir harus membiasakan untuk berkomunikasi dan belajar langsung dari orang tuli, yang biasanya bisa dilakukan melalui komunitas-komunitas orang dengan gangguan pendengaran. Untuk di UNS sendiri, khususnya dari HMP PLB (Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa), memiliki proram kerja Belajar Bahasa Isyarat “BEBAS”. Kegiatan tersebut memfasilitasi mahasiswa, utamanya prodi PLB untuk bisa belajar bahasa Isyarat langsung dari Komunitas Tuli, Gerkatin Solo. Kelasnya dilaksanakan tiap pekan selama 20x pertemuan. Serta ada biaya kontribusi peserta yang telah diperhitungkan panitia sebagai tanda terima kasih serta menghargai upaya orang tuli yang telah mengajarkan bahasa isyarat.

Asumsi lainnya ialah, kalau mahasiswa jurusan PLB berarti bisa menulis Braille juga dong. Kalau ini saya jawab bisa, karena memang ada mata kuliahnya. Begitupun seperti bahasa isyarat juga ada kelasnya, namun baru dilaksanakan tahun lalu.Namun, yang benar-benar dikuasai dasar-dasarnya seperti huruf. Untuk Braille lanjut seperti Bahasa Arab, Matematika, Fisika, Kimia, dsb tentu tidak mudah dipelajari karena penggunaan simbol yang lebih beragam. Oleh karena itu, mata kuliah Braille lanjut menjadi mata kuliah pilihan di UNS.

Jurusan Pendidikan Luar Biasa, meski terlihat spesifik namun sebenarnya cakupan disiplin keilmuan yang dipelajari cukup luas. Bila pada jurusan pendidikan pada umumnya, pasti akan ada mata kuliah paedagogik. Sedangkan PLB, mata kuliah yang diajarkan pada tahun pertama perkuliahan ialah ortopaedagogik. Bingung atau baru mendengar istilah ortopaedagoik kali ini intipers? Jadi singkatnya nih ya, Ortopaedagogik berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari kata orthos, berarti lurus, paedos (anak laki-laki) dan agogos (mengantar membimbing). Mempelajari mata kuliah tersebut, sama halnya kita belajar memahami karakteristik dan kebutuhan belajar anak berkebutuhan khusus yang beragam. Mulai dari klasifikasi anak dengan gangguan penglihatan (tunanetra), gangguan pendengaran dan/atau bicara (tunarungu), gangguan berpikir atau intelegensi dibawah normal <90 (tunagrahita), gangguan motorik (tunadaksa), autis dan kecacatan majemuk (tunaganda).

Selama kuliah di jurusan PLB tentunya membutuhkan ingatan dan pemahaman lebih banyak, karena mata kuliah yang dipelajari pun seputar teori, ilmu psikologi, konseling, dasar pengobatan dan perawatan sederhana untuk membantu anak mengurangi masalah yang timbul akibat kecacatannya.Ortopaedagogik tentu menjadi salah satu mata kuliah yang aku suka. Karena selain belajar di bangku kuliah, mahasiswa PLB juga mendapatkan tugas untuk melaksanakan observasi langsung ke sekolah luar biasa sesuai dengan kelainan yang dialami anak. Mulai mewawancarai guru, siswa serta melihat secara langsung proses mereka belajar, juga metode guru mengajar anak berkebutuhan khusus sesuai kesulitannya.

Observasi proses belajar di kelas
Foto bersama siswa SLB E Prayuwana usai observasi

Karena kegiatan observasi tiap semester hampir selalu ada, pun ditambah perkuliahan yang kebanyakan teori tersebut. Nggak heran dong, kalau tugasnya para mahasiswa PLB biasanya buat laporan observasi, makalah, laporan analisis dan kawan-kawannya lah. Tak jarang mahasiswa PLB juga mendapatkan tugas praktik simulasi pembelajaran, tentu harus totalitas. Kami pernah mengenakan seragam merah putih atau biru abu-abu. Dalam setiap kelompok ada salah satu mahasiswa yang berperan sebagai guru SLB yang begitu sabar, sedangkan siswa-siswanya entah kelainan apapun sulit untuk diatur. Hehe, tentu bukan sebagai guyonan, tapi kami menyebut itu sebagai totalitas peran.

Selain praktik mengajar, ada mata kuliah yang cukup membuat penulis greget karena tugasnya yang cukup banyak. Selain presentasi, berdiskusi dan membuat makalah teoritis, mahasiswa juga dituntut untuk membuat video simulasi orientasi dan mobilitas bagi anak tunanetra. Nah, mata kuliah orientasi dan mobilitas juga cukup menarik bagiku, karena mahasiswa benar-benar merasakan sebagai seorang yang mengalami hambatan penglihatan. Mata kuliah tersebut memang ditujukan untuk membantu anak tunanetra dalam mengenali dan membantu geraknya dalam kehidupan sehari-hari, dan yang paling sederhana adalah pemahaman kesadaran ruang. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik, kami juga harus bisa merasakan berada di posisi anak tunanetra, dan memahami cara membantu mereka.Praktik orientasi mobilitas dilaksanakan dalam 2 kali, yakni secara berkelompok dengan menggunakan kacamata yang kami buat disesuaikan dengan hambatan penglihatan pada anak tunanetra. Kemudian, praktik kedua sebagai penilaian ujian akhir semester melaksanakan orientasi mobilitas secara individu, yang didokumentasikan berupa video.

Praktek simulasi Orientasi dan Mobilitas kelompok

Selain mata kuliah diatas, ada beberapa penugasan yang mugkin tidak didapatkan di program studi lainnya. Tugas menyenangkan tersebut dibebankan pada mata kuliah Pengembangan Kreativitas. Dalam pemberian tugasnya, para mahasiswa dituntut untuk kreatif dan lebih banyak praktik. Materi yang dipelajari seperti origami, kirigami, membuat lampion, mozaik, pop up art dan pentas seni di akhir semester. Berbagai penugasan yang menyenangkan ini, membuatku merasakan dunia anak kembali. Nah, jadi ikut penasaran juga kan bikin karya-karya tangan yang kreatif begini buat mengajar anak.

Gimana sudah lebih tahu tentang jurusan Pendidikan Luar Biasa kan intipers? Nah, selain sebagai pekerjaan yang mulia, para lulusan Pendidikan Luar Biasa juga masih begitu banyak peluang kerjanya lho. Bisa menjadi guru, dosen,, pegawai dinas sosial atau pendidikan juga sebagai pendiri yayasan sosial pendidikan.


Tentang penulis : Insani Miftahul Janah

Mahasiswa angkatan 2014 Pendidikan Luar Biasa – FKIP UNS. Hobi, nonton youtube, menulis, membaca dan diskusi.Baru selesai melaksanakan Magang Kependidikan III di SLB C SETYA DARMA SURAKARTA

Kode Konten: X271

 

6 thoughts on “Pendidikan Luar Biasa UNS (Insani)”

    1. Sama-sama dek. Senang bisa membantu, kalau masih ada yang bingung silakan bisa tanya via DM instagram yaa 🙂

  1. KAk saya sudah ketrima di prodi plb tp belum yakin sangat . Saya boleh minta kontaknya ?. Saya mau tanya”

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *