Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM (Faatihah)

Hai adik-adik calon Gamada Inspiratif Intipers 🙂

Saya Faatihah Abwabarrizqi, mahasiswi S1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2014, alumni Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang jurusan IPA. Alhamdulillah, melalui jalur SBMPTN saya diterima dan berkesempatan hijrah ke Yogyakarta. Kali ini perbolehkanlah saya, memperkenalkan jurusan yang mungkin menjadi pilihan tepat bagi adik-adik yang sedang bingung menentukan jurusan dan menyadarkan adik-adik bahwa ada jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, bukan hanya Kedokteran, he he he.

Jadi setelah tahun 2014, setiap kali saya pulang kampung dan ditanya kerabat “kuliah jurusan apa Dek?” kemudian menjawab “Penyuluhan Pertanian” maka respon selanjutnya adalah “Wah macul di sawah nggak kepanasen ta kamu?” atau “Oh mesti nanti lulus jadi sales obat” what? Atau yang paling sering terjadi selanjutnya adalah diceritakan keadaan terkini dan kendala usahatani paman bibi, kemudian dimintai rekomendasi dan solusi. Sejak semula saya juga mengira bahwa prospek kerja lulusan PKP adalah menjadi Petugas Penyuluh Lapang (PPL). Tetapi ternyata tidak melulu sebagai PPL, lulusan PKP pun dipersiapkan untuk dapat berekspansi ke bidang pekerjaan yang lebih beragam. Iyakah?

Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP) Universitas Gadjah Mada adalah program studi (Prodi) Strata 1 (S1) yang terakreditasi ‘A’ dan secara administratif merupakan bagian dari Departemen Sosial Ekonomi Pertanian bersama dengan Prodi Agribisnis. Mahasiswa Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Universitas Gadjah Mada pada 4 semester pertama mempelajari semua dasar-dasar pertanian, seperti pengantar ilmu pertanian, dasar-dasar agronomi, ekologi, ilmu tanah, perlindungan tanaman, manajemen, ekonomi pertanian, penyuluhan dan komunikasi pertanian. Dari matakuliah dasar-dasar inilah kami belajar memahami dan berlatih mengidentifikasi suatu permasalahan usahatani yang ada, dapat digolongkan ke bidang apa dan pemecahan masalahnya memerlukan ilmu atau teknologi dari kombinasi bidang apasaja. Memasuki semester ke-5 dan seterusnya, mahasiswa PKP akan diarahkan untuk mempelajari lebih dalam ke bidang penyuluhan pertanian, atau ke bidang komunikasi pertanian, atau gabungan dari keduanya. Pada masa tersebut, mahasiswa belajar untuk melakukan proses komunikasi yang baik sebagai bagian dari kegiatan penyuluhan yang efektif dan efisien.

Simpelnya begini jika ditanya anak PKP bisa apa, maka kamu bisa bertanya apasaja terkait pertanian ke anak PKP, kemudian anak PKP yang akan mencari jawabannya, entah dengan bertanya ke temannya dari jurusan terkait atau dari sumber-sumber yang relevan, sehingga dengan banyak cara dapat memberikan jawaban yang paling mudah dimengerti dan diterapkan atas pertanyaanmu. Keberadaan Prodi PKP bertujuan untuk menjadi perantara dari IPTEK pertanian kepada masyarakat dan sebaliknya. Tanpa lulusan PKP, varietas unggul dari Litbang bisa tidak sampai ke pelaku usahatani. Tanpa lulusan PKP, temuan fenomena gagal panen di lahan pelaku usahatani bisa tidak memperoleh penanganan yang tepat dari pemerintah dan peneliti. Tanpa lulusan PKP, masyarakat akan melakukan usahatani dengan cara yang sama dari tahun 1900-an di tahun 2000-an.

Salah satu Professor kami selalu mempertanyakan agar kami tidak pernah melupakan pengertian dari ‘Penyuluhan Pertanian’ di setiap matakuliah yang beliau ajar. Secara sederhana Penyuluhan Pertanian dapat dimaknai sebagai proses pendidikan formal dan non formal untuk mendorong tercapainya perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani agar dapat menolong dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Ada banyak kata kunci dalam pengertian tersebut, diantaranya: pendidikan formal, pendidikan non formal, pengetahuan, sikap, keterampilan, petani, keluarga, masyarakat, lingkungan dan menolong. Sejumlah matakuliah khas program studi yang akan memperkuat identitas sebagai mahasiswa PKP diantarnya adalah Sosiologi Pertanian, Pendidikan Orang Dewasa, Pembangunan Masyarakat, Perubahan Sosial, Psikologi Sosial, Komunikasi Massa, Komunikasi Sosial, Jurnalisme Pertanian, Manajemen Penerbitan, Manajemen Penyiaran, Perencanaan Program Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Metode Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Evaluasi Program Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Hubungan Masyarakat,  Fotografi, Audio Video, Dinamika Kelompok dan sebagainya.

Adik-adik tidak perlu khawatir jika ingin mengambil matakuliah minat, yang sekiranya dapat menolong masyarakat, dari program studi dari departemen yang berbeda, bisa kok, bisa memilih Manajemen Agribisnis, Politik Pertanian, Budidaya Tanaman Sayur dan Hidroponik, Manajemen Finansial dan lain sebagainya. Jadi, sudah terbayang kan apasaja yang akan dipelajari? Untuk dapat menjadi cahaya (penyuluhan berasal dari kata ‘suluh’ yang berarti cahaya) bagi petani dan keluarganya, maka matakuliah yang dilaksanakan lebih banyak pada studi dan analisis kasus, tetapi tidak samasekali meninggalkan hafalan (rumus sederhana, beberapa teori-teori) dan hitungan walaupun sedikit (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, bisa lah yaa).

Studi dan analisis kasus ini biasanya terimplementasi dalam berbagai bentuk penugasan, seperti praktikum lab dan lapangan, resume jurnal, bermain peran, maupun pembuatan makalah dan presentasi kelas. Sebagian besar matakuliah menugaskan kepada mahasiswa untuk melakukan wawancara, entah kepada petani, kepada PPL, kepada perusahaan, atau kepada mahasiswa lain. Tidak sekali dua kali melainkan berkali-kali, mahasiswa harus mengunjungi petani dan kelompok tani. Salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah tugas matakuliah Pengkajian Sosial Ekonomi Pertanian untuk melakukan kunjungan wawancara ke 15 orang petani pemilik penggarap selama 5 hari 4 malam di Dusun Kemesu, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.

Matakuliah Pengkajian Sosial Ekonomi Pertanian (PSEP) melatih kami untuk dapat mengidentifikasi keadaan sosial dan ekonomi komunitas masyarakat petani baik per individu petani maupun per kelompok. Kami mengetahui apakah usahatani petani X sudah menguntungkan berdasarkan Cost and Benefit Ratio atau mengetahui apakah suatu pelatihan pada kelompok tani sudah efisien berdasarkan Cost Efficiency Analysis, mendeteksi apakah Dusun Kemesu termasuk dusun yang tahan pangan melalui berbagai pendekatan yang salah satunya adalah Pangsa Pengeluaran Pangan.

Selain PSEP, matakuliah Manajemen Penerbitan juga sangat berkesan bagi saya. Matakuliah ini sangat menolong saya untuk memunculkan gambaran tentang bagaimana proses kerja di bidang penerbitan, mulai dari kegiatan pra-cetak, cetak dan pasca cetak. Pada kegiatan pra-cetak, sangat jelas dipelajari bagaimana proses pembuatan naskah terbitan, dimulai dari penentuan topik hingga koreksi ISBN dan ISSN. Pada kegiatan cetak, kami banyak berdiskusi terkait bagaimana tahap cetak dapat berlangsung efektif dan efisien. Hingga pada kegiatan pasca cetak, kami memaksa otak bekerja untuk dapat merumuskan metode pemasaran yang optimal dan tepat sasaran. Dari seluruh rangkaian perkuliahan Manajemen Penerbitan, saya paling merasa berkesan ketika mengerjakan penugasan perencanaan perusahaan penerbitan. Pada penugasan ini imajinasi dan realitas kami dibenturkan, orisinilitas kami dipertanyakan dan pikiran kami dibukakan bahwa bidang penerbitan memiliki potensi besar untuk dapat membangun peradaban yang melahirkan kesejahteraan khususnya melalui aspek pertanian.

Maka pada akhirnya, kemanakah lulusan PKP akan berlabuh? Kita dapat pergi kemana saja, ke pemerintahan untuk mengemban jabatan struktural maupun fungsional, ke perusahaan nasional dan multinasional di divisi PR maupun CSR, OJT ke perbankan, magang ke LSM, menjadi jurnalis media penyiaran cetak maupun digital atau kembali ke bangku perkuliahan di dalam dan di luar negeri untuk jenjang yang lebih tinggi pun bisa (pakai banget). Di masyarakat, lulusan PKP diharapkan dapat mengimplementasikan ilmunya agar menjadi ‘suluh’ terlepas dari apapun pekerjaan yang diembannya.

Jadi, mahasiswa PKP harus yang pinter ngomong ya? Oh, tidak, banyak dari kami yang mulanya pendiam dan hingga kini tampak pendiam (hehehe), tetapi memiliki performa yang baik ketika harus memberikan pemaparan. Punya bakat ngomong itu bagus, tetapi di PKP kita belajar ngomong tidak sekedar ngomong, melainkan ngomong berdasarkan situasi dan kondisi audiens secara efektif, efisien dan mencerahkan *eaaa. Terpenting adalah kita berkemauan untuk terus belajar, menjadi open minded, berlatih percaya diri, kritis menerima informasi, serta membiasakan kepedulian dan kepekaan pada isu terkait dinamika sosial ekonomi pertanian.


Tentang Penulis: Faatihah Abwabarrizqi

Mahasiswi tingkat akhir Prodi S1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM. Pernah aktif di organisasi mahasiswa jurusan dan fakultas, expertise di Pengembangan Organisasi dan Pengabdian Masyarakat. Hobi menulis random dan melakukan perjalanan seorang diri untuk berkontemplasi. Saat ini sedang mengerjakan skripsi yang berjudul Efektivitas Iklan Layanan Masyarakat sebagai Media Pendidikan Konsumen dalam Meningkatkan Daya Dukung Masyarakat Yogyakarta terhadap Produk Organik Pertanian Lokal.

Blog: https://www.faatihaha.com

Twitter & Instagram: @faatihaha

Linked.in: https://id.linkedin.com/in/faatihaha

Kode Konten: X345

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *