Pendidikan Profesi Dokter UGM (Kuntum)

Halo, Intipers! Perkenalkan, namaku Kuntum Basitha, atau bisa dipanggil Sitha. Mahasiswa Profesi Pendidikan Dokter Universitas Gadjah Mada angkatan 2012, atau biasa disebut “dek koas”. Koas? Apa tuh? Nanti ya akan dijelaskan lebih lanjut di artikel ini, so, baca sampai akhir ya!

Wah mahasiswa FK? Anak pintar nih pasti! Well, kata-kata itu yang sering aku dengar ketika berkenalan dengan orang asing di stasiun saat pulang kampung. Tidak sepenuhnya bener sih, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Bener karena hampir di semua kampus, baik PTN maupun PTS, FK masih menjadi jurusan favorit, yang artinya butuh effort lebih buat kuliah disana dibanding jurusan lain. Meski sebenernya, pintar bukan jadi penentu utama buat sukses kuliah di FK. Di atas pintar, jadi dokter itu butuh attitude dan persistence. Kalau kata dosenku, pintar itu bisa diasah dengan banyak latihan, tapi perilaku dan ketekunan sebaliknya. Karena saat jadi dokter nanti, pasien ga lihat IPK kita berapa, tapi mereka menilai seberapa baik kita memperlakukan manusia lain. Ketekunan juga sangat dibutuhkan mengingat perjuangan jadi dokter itu butuh waktu dan usaha yang tidak bisa dibilang sebentar.

Di UGM, S1 Pendidikan Dokter ditempuh selama 3,5 tahun untuk dapat gelar “S.Ked” (Sarjana Kedokteran), ditambah 2 tahun pendidikan profesi, untuk dapat gelar “dr” atau MD (medical doctor). Selama 3.5 tahun, kami digembleng dengan berbagai macam materi hafalan. Tahun pertama, kami belajar mengenai fungsi normal dari tubuh manusia. Kemudian tahun kedua dan seterusnya, kami belajar berbagai penyakit dan penanganannya. Mata kuliah terbagi ke dalam sistem blok (1 blok setara dengan 7 sks). Satu blok ditempuh dalam waktu 6 minggu, dengan 5 minggu materi dan 1 minggu ujian. Satu semester terdiri dari 3 blok. Dan pada akhir tahun aka nada ujian praktek dengan pasien simulasi atau disebut juga OSCE (Objective structured clinical exam). Jadi total, selama 3.5 tahun akan menempuh 21 blok dan 4 kali ujian OSCE.

Mata kuliah perblok terbagi dalam sistem, misalnya sistem pencernaan, pernafasan, sistem indera, sistem saraf dan lainnya. Dalam satu sistem itu akan dibahas mulai dari anatomi, fisiologi, histologi, dan biokimia. Sistem integrasi mata kuliah ini tentu memudahkan mahasiswa untuk memahami materi. Mulai dari perkuliahan tahun ketiga, kami sudah diperbolehkan untuk mendalami mata kuliah mana yang kami minati untuk dijadikan tugas akhir. Tidak ada waktu khusus, untuk mengambil SKS skripsi. Semua harus dikerjakan diantara jadwal blok-blok yang cukup padat. Bila semua syarat sudah terpenuhi maka kami berhak untuk wisuda.

Anak FK belajar terus dong? Salah banget. Kami juga diminta untuk aktif berorganisasi. Ada banyak lembaga yang bisa memfasilitasi di FK UGM, tinggal pilih mana yang sesuai dengan minat dan bakat. Mulai dari BEM, TBMM (seperti PMR saat SMA), MSC (penelitian), pencinta alam, hingga paduan suara dan Medical Music Club. Atau, kalau ingin berganti suasana, bisa berkunjung ke gelanggang mahasiswa  UGM bergabung dengan berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan berkenalan dengan mahasiswa fakultas lain (siapa tahu ketemu jodoh, eh)

Setelah 3.5 tahun, kami kemudian menempuh fase Pendidikan Profesi alias Dokter Muda alias koas alias coass (co-assistant). Yap, pada fase ini kami akan terjun langsung baik ke puskesmas maupun rumah sakit untuk bertemu dengan pasien sebenarnya dan menerapkan berbagai hal yang sudah kami pelajari selama S1. Di UGM, 2 tahun Pendidikan Profesi terbagi ke dalam 14 departemen atau stase. Stase besar seperti bedah, anak, penyakit dalam dan obsgyn yang ditempuh dalam waktu 10 minggu. Sementara stase kecil seperti kulit, THT, mata, saraf dan yang lainnya ditempuh dalam waktu 4 minggu.

Suka duka, nano-nano perjuangan menjadi dokter yang sebenarnya baru terasa pada fase ini. Disini kami berperan langsung sebagai asisten dokter. Jadwal yang padat, mulai dari follow-up pasien jam 5 pagi, sebelum para dokter konsulen follow-up, kemudian ikut poliklinik atau jadwal operasi hingga sore. Di sela-sela jadwal kami diminta untuk laporan kasus dan bimbingan oleh dokter. Belum lagi, jika ada jadwal jaga malam, yang berarti kami akan tetap di RS hingga esok hari, untuk mengulang rutinitas hari selanjutnya. Jadwal jaga tidak kenal libur, bahkan tahun lalu, saat Idul Fitri saya tetap kena jadwal jaga kamar bersalin saat stase obsgyn. Namun diantara semua kelelahan itu, ada banyak hal kecil yang membawa kebahagiaan. Senyuman pasien saat mengatakan keluhannya membaik, kata-kata “terima kasih dokter” yang terucap padahal saya belum dokter, rasanya menggendong bayi baru lahir bahkan sebelum ibunya sendiri, hingga bersyukur saat bisa tidur cukup saat tidak jadwal jaga.

follow_intipjurusan_COMPRES

Gambar 1. Muka tegar malam takbiran di Kamar Bersalin RSUD Banyumas

Selama koas, kami terbagi dalam kelompok kecil dan tersebar di berbagai rumah sakit jejaring mitra FK UGM di sekeliling Yogyakarta-Jawa Tengah, seperti Banyumas, Pati, Wonosobo, Wates, Klaten dan lainnya. Salah satu kebahagiaan lain saat koas adalah bisa menjelajah daerah lain saat waktu kosong, seperti wisata kuliner maupun ke objek wisata khas daerah tersebut.

Gambar 2. Di antara jadwal padat, koas masih bisa bahagia juga, kok

Satu hal yang berbeda dari FK UGM dibanding yang lain yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata) diadakan saat koas yang merupakan satu stase tersendiri selama 2 bulan. Pemilihan waktu saat koas ini didasari bahwa kami diharapkan mampu berkontribusi lebih nyata terhadap peningkatan taraf kesehatan warga, karena kami sudah lebih paham terhadap realita masalah kesehatan dibandingkan selama S1. Lokasi KKN tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Wakatobi dan Papua. Mahasiswa dibebaskan memilih lokasi. Selama KKN, kami juga berkolaborasi dengan mahasiswa fakultas lain untuk bersama membangun desa.

Setelah 2 tahun koas, maka kami akan dihadapkan pada Uji Kompetensi Dokter (UKMPPD) yang diadakan setahun tiga kali (seperti UN saat SMA). Ujian ini menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan gelar dokter. UKMPPD terdiri dari ujian test computer based dan OSCE. Semua calon dokter akan berjuang sekuat tenaga untuk persiapan menghadapi UKMPPD. Setelah dinyatakan lulus UKMPPD, maka kami berhak disumpah jabatan sakral, yang disebut Sumpah Hippokrates. Sumpah ini sangat berat, dan pertanggung jawabannya hingga akhirat nanti. Jadi, masih berminat jadi dokter?

Setelah lulus dokter, maka kami diharuskan untuk internship selama 1 tahun. Internship merupakan ajang bagi dokter-dokter baru untuk memperkaya kemampuan dan pengalaman. Jangan salah, fase lanjutan setelah sumpah ini akan menjadi lebih menantang dibandingkan saat koas. Karena, saat koas kami dinilai masih belajar sehingga tanggung jawab akan ada pada dokter spesialis. Namun, saat internship, kami dinilai sudah mandiri dan harus dapat mempertanggung jawabkan semuanya sendiri. Selesai internship, kami akan mendapat surat tanda registrasi (STR), yang nantinya dipakai untuk mengurus surat izin praktik (SIP), sebagai legalitas berpraktek.

Kebanyakan lulusan FK UGM mengambil pendidikan spesialis sebagai pendidikan lanjutan. Lamanya pendidikan spesialis ini bervariasi tergantung spesialisasinya, mulai 3-6 tahun. Fase pendidikan spesialis ini jauh lebih rumit dan butuh ketangguhan ekstra untuk menghadapinya. Setelah lulus, maka akan mendapatkan gelar Sp (Spesialis) dibelakang nama. Namun, masih banyak pilihan lain jika tidak berminat melanjutkan spesialis ataupun menjadi klinisi (dokter praktek), yaitu dengan menekuni bidang penelitian atau mengambil jabatan struktural, baik di rumah sakit, Kementrian Kesehatan maupun pemerintahan seperti dr. Hasto Wardoyo Sp. OG (K) sebagai Bupati Kulonprogo atau Prof. dr. Ali Ghufron Mukti M.Sc., Ph.D sebagai WaMenKes periode 2011-2014.

Begitulah sedikit cerita mengenai seluk beluk pendidikan kedokteran. Mungkin diantara Intipers ada yang terinspirasi ingin menjadi dokter, atau malah sebaliknya? Pilihan tetap ada di tangan kalian, Intipers! Satu kata akhir, Profesi Dokter merupakan profesi yang mulia, jadi ikhlaskan hati untuk terus belajar sepanjang hidup dan mengabdi pada masyarakat.

Terima kasih sudah mau membaca, Salam!

Kuntum Basitha

29 Juli 2017, di tulis di tengah Stase Bedah RSUD Wates.


Tentang penulis : Kuntum Basitha

Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Angkatan 2012 – UGM. Saat ini sedang menjalani koas stase (hampir) terakhir, mohon doanya agar bisa jadi dokter yang professional dan amanah.

Find me at :

Twitter @kuntumbasitha

Instagram @kuntumbasitha

Facebook web.facebook.com/kuntumbasitha

Kode Konten : X196

1 thought on “Pendidikan Profesi Dokter UGM (Kuntum)”

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *