Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia USD (Weibe)

Assalamualaikum

“Hai…. Intiper yang lagi galau karena mau kuliah di mana dan jurusan apa? Cie… yang lagi galau. Jangan galau, galau itu berat.” hehehe

Perkenalkan nama saya Rugi Astutik dengan nama pena Weibe Engel. Yap… Saya punya nama pena salah satunya berkat jurusan program studi yang sudah saya ambil. Saya alumni program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta tahun 2015.

“Mengapa pilih jurusan bahasa Indonesia? Kenapa tidak bahasa Inggris?” Sebuah pertanyaan yang sering kali terlontar oleh sebagian banyak orang saat mendengar mahasiswa/mahasiswi menjawab program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Apalagi kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang memiliki program studi unggulan bahasa Inggris. Namun tentu sebagai mahasiswi harus memiliki jawaban andalan untuk menjawab sebuah pertanyaan yang seolah-olah menyepelekan apa yang telah menjadi sebuah keputusan kita. “Kalau bukan kita yang mempelajari, melestarikan, dan mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anak Indonesia mau siapa lagi?”

Pelajaran bahasa Indonesia selalu dianggap “gampang”, namun nyatanya sangat sulit bahkan lebih sulit daripada belajar bahasa lain. Buktinya saat UN jarang siswa-siswi di Indonesia yang mampu memperoleh nilai 10. Belajar bahasa Indonesia tidak semudah belajar matematika yang memiliki rumus dan bisa dihafal, tetapi lebih dari itu. Kita membutuhkan kefokusan, ketelitian, pemahaman, dan logika untuk memahami apa yang dibaca/didengar. Sebenarnya saat seseorang mampu memahami suatu bacaan, maka ia akan mampu memahami disiplin ilmu yang lain. Sayangnya, tidak semua orang memahami hal ini.

Saya adalah salah satu orang yang beruntung karena memperoleh beasiswa selama 4 tahun di USD. Saya memilih prodi ini karena sejak sekolah menengah saya selalu memperoleh nilai jelek, tetapi saya bercita-cita menjadi  seorang penulis. Saya berpikir ini adalah langkah awal saya untuk meraih cita-cita. Awal masuk kuliah, saya langsung merasa salah jurusan. Bagaimana bisa begitu? Sebuah jurusan yang membuat para mahasiswa harus banyak membaca dan menulis makalah. Namun hal yang paling tidak saya suka saat harus belajar tentang masa lalu (biografi sastrawan). Hahaha bercanda. Tetapi banyak membaca membuat saya bertambah ilmu. Memang membaca harus dibudayakan, meskipun dimulai dari terpaksa.

Tentu saya sangat bersyukur dan bangga bisa menjadi salah satu alumni di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta karena saya dididik untuk pluralisme. Sebuah Univeritas yang membuat saya berpikir luas terhadap kehidupan dan berkarakter humanis. Saya juga memiliki banyak teman dengan berbagai agama, suku, budaya, dan  bahasa.

Meskipun sempat merasa salah jurusan, saya mencoba menikmati masa-masa kuliah saya. Saat semester empat, prodi memperkenalkan keterampilan tambahan bagi para mahasiswa yaitu jurnalistik dan Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA). Selain menjadi guru, kami disiapkan untuk mampu menjadi jurnalis atau guru BIPA. “Wow….Luar biasa,” saya merasa memiliki hidup dan menyesali karena sempat mengeluh salah jurusan. Di sini saya benar-benar bahagia karena bisa menjadi guru, penulis sesuai cita-cita saya, dan guru untuk orang luar negeri. Akhirnya saya memilih tambahan keterampilan BIPA. “Kenapa tidak jurnalistik? Padahal saya ingin menjadi penulis?” Alasan saya yaitu belajar menulis bisa dari mana saja, banyak membaca, dan banyak latihan. Tetapi menjadi guru BIPA memiliki peluang yang sangat besar apalagi saat ini banyak orang asing tertarik belajar bahasa Indonesia. Saya belajar tentang kurikulum luar negeri, metode mengajar, menyiapkan bahan dan materi pelajaran, dan mengajar orang asing sangat mengasyikan. Pada dasarnya saya suka tantangan dan mengajar orang asing merupakan tantangan besar bagaimana saya mampu menyampaikan ilmu kepada mereka supaya mereka memahami materi yang saya sampaikan.

Foto saat mengajar di sekolah

Mata kuliah yang sangat sulit saat mengikuti prodi PBSI yaitu sintaksis. Mata kuliah yang mempelajari materi frase, klausa, dan kalimat. Tetapi semua itu bisa diatasi dengan banyak belajar dan bertanya kepada dosen tentang materi yang kurang dipahami. Dosen-dosen prodi PBSI sangat ramah dan baik hati. Tidak hanya itu, para dosen PBSI hampir semua lulusan S3, jadi mahasiswa langsung belajar dengan pakarnya. Menjadi mahasiswa di USD selain dididik cerdas secara akademik, berkarakter humanis, mahasiswa juga harus aktif berorganisasi. Syarat untuk dapat lulus yaitu memiliki 10 sertifikat. Tentu sertifikat bukan hanya sebagai peserta seminar, tetapi sebagai panitia. Hal ini menunjang saya mampu percaya diri, bersosialisasi, dan mampu bekerja dengan baik di dunia kerja.

Setelah lulus, Maret 2016 saya langsung merantau. Saya diterima kerja menjadi guru bahasa Indonesia di salah satu sekolah swasta, Tangerang Selatan sampai saat ini. Selain mengajar di sekolah formal, 2 April 2016 saya membuat kegiatan yang saya beri nama Griya Impian yaitu kegiatan pengabdian masyarakat di bidang pendidikan (mengajar anak-anak sekitar kos dengan gratis). Saya bersyukur kegiatan saya ini disambut baik oleh anak-anak sekitar kos sehingga terdata ada 53 anak yang pernah belajar di Griya Impan dari level belum sekolah sampai SMP. Selain itu, banyak orang yang turut membantu menjadi volunteer teacher dan donatur buku bacaan, alat tulis, dan barang lainnya. Adapun IG kegiatan saya yaitu @griya_impian dan jika ada yang tertarik untuk ikut menjadi bagian dari Griya Impian bisa cek link http://www.indorelawan.org/activity/5aa014adc849ce657dc7c6b0 atau bisa cek youtube di http://youtu.be/m9CQXOFDvn8. 2 April 2018, Griya impian akan ulang tahun yang ke-2. Saya berharap semakin banyak orang yang peka dan peduli terhadap sesama. Saya berharap banyak mahasiswa yang mau berbagi ilmu dan bergabung menjadi salah satu pengajar di Griya Impian. Selama ini saya melakukan sendirian mulai dari menyiapkan materi, bahan, dan mengajar sehingga kewalahan. Maret ini saya mencoba open recruitment untuk para mahasiswa menjadi pengurus dan volunteer teacher. Tujuannya mahasiswa dapat peka lingkungan, memiliki empati dan jiwa sosial, pendidik, dan pemimpin. Kegiatan Griya Impian saya lakukan setiap hari Minggu, pukul 15.00-16.30 di Kos saya, Pondok Cabe Udik RT 02/RW 03, Pamulang, Tangsel.

Selain sibuk bekerja dan mengembangkan Griya Impian saya juga mencoba mewujudkan impian saya yaitu menjadi penulis. Alhamdulilah tahun 2017, saya mampu produktif menghasilkan karya 13 antologi buku yang sudah terbit dan beberapa masih proses cetak. Tahun ini program menulis solo. Saya bangga telah menjadi alumni PBSI karena saya bisa menjadi saya sekarang ini. Jika ada yang mau sharing dengan saya, saya bisa dihubungi melalui IG @weibe_engel. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian. Amin.


Kode Konten: X332

1 thought on “Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia USD (Weibe)”

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *