Pend. Sastra dan Bahasa Indonesia – Grandis

“Lah, ngapain sih lo ngambil jurusan bahasa Indonesia?

Kayak lo belom bisa ngomong bahasa Indonesia aja sih!”


Kurang lebih seperti itulah stereotype orang-orang di luar sana mengenai jurusan yang saya ambil. Mahasiswa sastra Indonesia pasti merasakan hal yang sama ketika banyak orang menanyakan serupa hal di atas. Dan kita seringkali bingung dalam menjawabnya.

So here, I wanna try to make it a bit clear or at least it could be acceptable. Walaupun mungkin beberapa orang akan menganggap ini sebagai sebuah pembelaan. But I’ll try to give some facts. So people won’t make that stereotype goes to us anymore.

400

Sebelum membahas jurusan, saya akan membahas fakultas bahasa terlebih dulu. As we know, fakultas bahasa (dan sastra) nggak pernah lebih eksis daripada fakultas kedokteran, teknik, hukum, ekonomi, dll. Malah urutan kepeminatannya hampir selalu menempati posisi paling bawah. Right?

Then, I have a question now,

“Will human understand the knowledges without language?”

follow_intipjurusan_COMPRES

Nggak kan?! There’s no knowledges without language. Kita nggak bakal tahu bagaimana cara meracik obat dengan dosis yang sesuai, mengukur percepatan, menghitung pajak, menetapkan undang-undang, dan sebagainya dan sebagainya tanpa adanya bahasa. Kita hidup dengan ilmu. Dan segala macam ilmu disampaikan melalui bahasa, isn’t right? Manusia memanusiakan dirinya dengan bahasa. What would human thought be like without language? Seorang filsuf asal Austria, Ludwig Wittgenstein bilang begini,

“The limits of my language are the limits of my universe.”  See? I’m on him! Silahkan dipikir.

Nah, sekarang langsung bahas ke jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Jika saya menemukan orang-orang menanyakan hal seperti tadi di atas, saya akan menjawabnya kurang lebih seperti ini,

“Lo yakin udah ngerasa jago bahasa Indonesia kalau nilai UN bahasa Inggris lo jauh lebih tinggi daripada nilai UN bahasa Indo lo?” That’s the point.

Mempelajari bahasa bangsanya sendiri seringkali dianggap sebelah mata. Memilih jurusan bahasanya sendiri dianggap pilihan yang tidak cermat. Apakah kalian tahu kalau Emma Watson juga lulusan Sastra Inggris? Padahal bahasa Inggris adalah bahasa keseharian atau disebut juga bahasa aslinya (mother language).

Then, why we choose to learn (more) our nation language? Jawaban saya sih, because I realize where place I’m alive and mostly be.

As an Indonesian, wajib hukumnya kita mempelajari bahasa dan budayanya sendiri sampai ke akar-akarnya. Boleh kita mempelajari bahasa dan budaya lain, tapi jangan sampai budaya sendiri justru dilupakan (I’m that person. That’s why I’m also trying to speak English here. Haha). Intinya, nggak lucu kan kalau kita lebih khatam mengenai budaya lain tapi seolah-olah jadi nggak kenal sama budaya sendiri? Melupakan identitas diri dengan menangung-agungkan budaya orang lain. Setidaknya, kita punya orientasi mengenalkan budaya sendiri kepada kancah mancanegara. Bahasa asing itu perlu, bahasa Indonesia itu wajib.

Well, secara kekhususan. Banyak sekali hal-hal yang bisa didapatkan oleh anak jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang mungkin anak jurusan lain nggak bisa dapat. Misalnya,

 

  1. We study about how to pronounce every single fon as well. It’s called “Fonologi”.

Di matkul ini kita belajar bagaimana proses pengucapan bunyi huruf dengan benar. If you want to know, ternyata pengucapan huruf A – Z ada aturannya. Bagaimana lidah dan bibir kita harus diposisikan.

 

  1. I’ve found that, sastra itu luas seluas-luasnya. Luas banget.

Dalam mengkaji suatu karya misalnya puisi yang cuma dua bait aja, kita dituntut untuk membuka pikiran seluas-luasnya dan memunculkan berbagai macam kemungkinan yang terkait dengan teks tersebut. Contohnya, secara implisit puisinya menceritakan tentang dua orang yang jatuh cinta, tetapi setelah dikaji secara mendalam ternyata puisi tersebut menceritakan tentang perang dunia kesatu. Nahloh! Unbelievable terkadang. Tapi itu seringkali terjadi.

(pasca kegiatan Pergelaran Sastra Indonesia FPBS UPI 2016)

 

  1. We are the doctor of the language!

Nggak cuma kedokteran atau kriminologi yang punya ilmu “forensik”, jurusan kita pun punya. Disebutnya “Linguistik Forensik”. Semacam detektif yang berurusan dengan masalah identifikasi penutur berdasarkan dialek, gaya bicara, atau aksennya. Sering juga dilibatkan untuk meganalisis penggunaan bahasa seseorang apakah mengandung unsur penghinaan atau tidak. Seperti belakangan ini, linguistik forensik turut ambil andil dalam kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Dosen saya juga terlibat langsung sebagai ahli linguistik dari pihak Buni Yani lho! ^^

 

  1. We will find so many problem that never come to mind before.

Berbeda dengan ilmu pasti (IPA) yang sudah paten rumus-rumusnya. Bahasa itu sifatnya dinamis, terus menerus berkembang menyesuaikan zaman. Karena itu, dalam mempelajari bahasa pasti kita bakal menemukan problematika-problematika yang mungkin nggak pernah terpikirkan sebelumnya. Misalnya, mengapa kebanyakan orang memaknai kata “acuh” sebagai tidak peduli, padahal makna sebenarnya adalah justru peduli? Seperti lagu D’Masiv “Kau acuhkan aku kau diamkan aku” Nahloh ngaco kan? Lalu dimana letak keliruannya? Ini seru!

Selain itu, oleh karena terdapat embel-embel “pendidikan” di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang saya ambil. Saya juga mendapatkan nilai lebih yang mungkin tidak didapatkan di jurusan sastra pada umumnya. Selain mendapatkan ilmu mengenai kebahasaan dan kesastraan, jurusan yang saya ambil ini lebih diarahkan kepada bagaimana menjadi seorang pendidik (guru) bahasa Indonesia. Mata kuliah di dalamnya mencakup model-model dan metode pembelajaran, bagaimana membuat buku ajar yang disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, menyusun rencana pembelajaran (RPP), dan masih banyak lagi.

Selama menjalani perkuliahan di jurusan ini, saya baru sadar bahwa menjadi seorang pendidik itu ternyata tidak mudah. Juga saya menjadi tidak heran mengapa siswa tidak pernah memperoleh nilai 10 pada UN mata pelajaran bahasa Indonesia.

Come into this programs. You will regret for ever saying that assumption above.

Nah, untuk kalian yang masih penasaran dengan jurusan saya. Boleh tinggalkan pertanyaan di kolom komentar atau hubungi saya langsung di kontak yang tertera. Feel free to ask 🙂

Grandis Putri Ogustina

Mahasiswi ambang akhir di departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Menulis di laman www.revoluside.com kalau lagi pingin. Lebih sering curhat di Tumblr. Tipikal sedikit nulis banyak curhatnya. Heeee... Dapat dijumpai di,

Kode Konten : X149

14 thoughts on “Pend. Sastra dan Bahasa Indonesia – Grandis”

    1. Bertanya kualitas, bisa dilihat akreditasi jurusan (prodi) tsb sebagai indikatornya. Alhamdulillah untuk jurusan saya (Pendidikan Bhs & Sastra Indo) terakreditasi A utk jenjang S1 sampai dgn S3. Mungkin yg membedakannya dgn prodi Bhs Indo di universitas lain adalah prodi sy diarahkan kepada keguruan (pendidikan). Jd bukan hny belajar mengenai bahasa dan sastra tp jg mengenai bagaimana cara mengajar bhs Indo yg baik. Kira2 begitu :).

  1. kak, biasanya yg masuk jurusan pend bahasa dan sastra indonesia dikampus kakak SMAnya IPA atau IPS ya kak. aku tertarik masuk jurusan tsb karena dr dulu suka gitu belajarnya. tp aku udah bljr yg kayaknya sih emg bener tp why my teacher always nyalahin yg uda bener gt kak, pdhl gelarnya dia Drs . jd agak kurang2 yakin gt masuk jurusan tsb kak. oh iya once again kak, apa cm jurusan yg ada ‘pendidikan’ aja atau ada yang cuma sastra dan bahasa indonesianya aja? makasi sebelumnya kak😊

    1. Idealnya sih dr kelas bahasa biar sejalan. Tp krn jarang bgt SMA yg ada kelas bahasa, jd mostly IPS. Tp gak jarang juga yg dari IPA, kyk aku misalnya. Cuma ya sayang aja ilmu IPAnya gt, benar2 jarang bahkan gak terpakai di matkul jurusan ini. Paling buat statistika utk kepentingan penelitian (skripsi) dan hitung2an skor nilai siswa aja (kalau ambil pendidikan). Kalau dari IPS masih ada nyambungnya, krn pd dasarnya ilmu bahasa adalah ilmu sosial.

      Nah kalau di UPI selain prodi pendidikan ada juga kok yg non-pendidikannya 🙂

  2. Kalau aku dri smk jurusan perikanan tapi sangat minat masuk jurusan tsb.. karena aku suka mata pelajarannya dr SD smpai SMK nilai bhs indonesia ku Alhamdulillah bgus gimana ya peluang masuk nyaa?

  3. Kak kalo Sastra Indonesia itu Matkulnya condong ke mana?
    Dan Kalo Pendidikan Bahasa Indonesia itu kemana?
    Lalu prospek kerja dari jurusan pendidikan sastra/sastra Indonesia itu apa sih kak?

  4. Kak, saya mahasiswi PBSI. Saya masuk prodi mungkin bisa dibilang tercemplung. Yang saya pikirkan, saya hanya tidak memiliki bakat seperti menulis dan membaca puisi, bermain teater. Saya hanya seorang penikmat teater, apakah ini tidak masalah? Saya memang ingin menjadi guru, namun awalnya saya ingin masuk Pendidikan bahasa inggris karena hanya itu yang saya bisa walau belum mahir. Terima kasih.

  5. kak maaf nih sebelumnya , kakak asalnya niat gak masuk jurusan sastra indonesia atau cuma pelarian aja ? (maaf kak lancang )
    terus ka kalau di UPI , fakultas sastra cuma dijuruskan untuk menjadi pengajar/jadi guru aja ?
    Mohon jawabannya ya kakk , makasihh 🙂

    1. Sejak awal kelas 12 saya emg berniat masuk jurusan tsb. Sehingga jurusan ini selalu jadi pilihan di SNMPTN, SBMPTN, sampai ke Seleksi Mandiri UPI.

      Tidak. Di departemen Bahasa Indonesia UPI ada 2 prodi: kependidikan dan sastra (non-kependidikannya).

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *