Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Ain)

Hello Intipers!

Perkenalkan nama saya Siti Ainur Rofiq, dan orang-orang kerap menyapa diri saya dengan sebutan Ain, atau mereka lebih banyak mengenal nama Ain Rofiq Almukminin. Saat ini status saya masih tercatat sebagai mahasiswa aktif prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atau yang lebih dikenal PBSI di Universitas Trunojoyo Madura. Madura? Eits jangan salah, walaupun kuliahnya di Madura saya asli orang Jawa kok, hehe.  Lebih tepatnya saat ini saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang Alhamdulillah sudah melewati tahap skripsi, sidang, dan sedang menunggu waktu Yudisum yang Insha Allah akan dilaksanakan akhir bulan ini. Saya akan berbagi sekelumit cerita dari pengalaman saya tentang jurusan yang saya tekuni selama ini (karena berbagi itu menyenangkan). Semoga artikel saya bisa memberikat sedikit manfaat untuk teman-teman.

PBSI? Apasih PBSI? PBSI merupakan salah satu program pendidikan yang ada di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). PBSI sendiri merupakan prodi yang baru saja berdiri sekitar lima tahun lalu  (masih muda banget ya…), dan saya merupakan angkatan yang kedua (masuk kandidat angkatan tertua, hehe). Oke kita lanjut.

Di prodi PBSI apa saja sih yang akan dipelajari? Pada dasarnya PBSI terlahir dari Fakultas Ilmu Pendidikan, jadi PBSI tidak terlepas dari mata kuliah yang berkaitan dengan ilmu-ilmu pendidikan. Tapi jangan khawatir, setiap hari tidak melulu mempelajari seluk beluk pendidikan. Mata kuliah tentang bahasa dan sastra juga disajikan dengan menarik. Saya sendiri lebih banyak menekuni di bidang bahasanya. Pertanyaan yang sering saya dapatkan dari khalayak umum, kenapa sih kamu milih jurusan PBSI? Kamu kan sudah hidup di Indonesia, kenapa kuliah masih ambil jurusan bahasa Indonesia juga? Baiklah, saya akan menjawab pertanyaan itu berdasarkan sudut pandang dan pengalaman saya. Kenapa saya memilih PBSI? Jika boleh jujur, sebenarnya di awal masuk kuliah saya ingin mengambil jurusan Akuntansi atau yang berbau-bau dengan hitungan, karena sejak MAN bassic saya memang dari IPS. Pilihan kedua saya ingin mengambil jurasn Bahasa dan Sastra Indonesia murni, berhubung di universitas saya tidak ada Sastra Indonesia murni jadi saya memilih PBSI. Apa salahnya mempelajari hal-hal yang baru. Pertanyaan kedua, sebenarnya itu adalah pertanyaan yang paling tidak saya sukai. Memang benar saya orang Indonesia, dan kenapa masih mengambil PBSI. Kita lihat fakta yang sering terjadi di sekitar kita. Sekilas pelajaran Bahasa Indonesia terlihat mudah, tapi faktanya? Jarang sekali saya menjumpai nilai ujian nasional bahasa Indonesia mendapatkan nilai 10. Hayo, yang sering bertanya kepada saya orang Indonesia kenapa ambil jurusan PBSI? Kalian nilai ujian Bahasa Indonesianya kok nggak dapat 10? Padahal kalian orang Indonesia? (hayo, berikan jawaban yang tepat ya, hehehe). Sebenarnya di PBSI kita tidak hanya mempelajari bagaimana bahasa Indonesianya saja. Di PBSI juga mempelajari dasar-dasar pendidikan, sejarah mengenai sastra di Indonesia, dan mempelajari dari mana bahasa itu diperoleh. Di PBSI terdapat tiga konsentrasi, yakni Pendidikan, Bahasa, dan Sastra.

di-web

Penjurusan ini dimulai ketika duduk di semester empat. Setiap konsentrasi akan menyuguhkan mata kuliah-mata kuliah pilihan yang sesuai dengan konsentrasi masing-masing. Mata kuliah pilihan pilihan disesuaikan dengan konsentrasi yang dipilih. Secara keseluruhan tugas-tugas mahasiswa PBSI tidak hanya di kelas saja. Mahasiswa PBSI juga sering mengadakan tugas di lapangan, seperti mata kuliah leksikografi, sosiolinguistik, dialektologi, dan terjun ke sekolah langsung untuk praktik mengajar. Selain itu mahasiswa PBSI yang mengambil konsentrasi bahasa akan bertemu dengan mata kuliah pilihan leksikografi dan dialektolgi. Mata kuliah leksikografi mengharuskan mahasiswanya untuk membuat atau menghasilkan kamus yang belum pernah ada (bisa bayangkan kan bagaimana serunya…).

selain itu, mata kuliah dialektologi juga mengharuskan mahasiswanya untuk melakukan penelitian bahasa secara langsung ke daerah-daerah tertentu. Mata kuliah ini juga tidak kalah seru. Dari mata kuliah ini saya bisa megetahui daerah-daerah yang sebelumnya asing bagi saya, lebih mengenal budaya asyarakat, dan mengenal banyak individu. mata kuliah fonologi biasanya juga menjadi mata kuliah yang digemari banyak mahasiswa, mata kuliah ini mempelajari bagaimana proses terjadinya bunyi setiap huruf. Ketika mengikuti mata kuliah ini, dijamin kelas akan riuh dan ramai, tidak kalaj seru. Selain tugas-tugas di atas, tugas mahasiswa PBSI tidak jauh berbeda dengan teman-teman. Seperti biasa, yang namanya mahasiswa pasti tidak terlepas dari tuga meresum, membuat makalah, presentasi di dalam kelas. Kurang lebih tugas kita sama.

Selain itu, kesibukan mahasiswa PBSI biasanya mengadakan kemah sastra, latihan bermain peran atau teater, mengikuti kegiatan bulan bahasa dan duta bahasa. Biasanya moment pemilihan duta bahasa paling berkesan di kalangan mahasiswa, karena setiap kelas, setiap angkatan akan berlomba-lomba untuk mengeluarkan calon terbaiknya untuk mengikuti seleksi duta bahasa. Hal lain yang wajib diikuti mahasiswa PBSI yaitu mengikuti tes UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia), jadi setiap mahasiswa akan melakukan tes dibalai bahasa untuk mengukur tingkat kemahirannya dalam berbahasa Indonesia. Dalam tes tersebut akan disuguhkan kurang lebih 140 soal yang berkaitan dengan menyimak, berbicara, membaca, dan menukis.

Jika berbicara mata kuliah yang paling bersan, bagi saya Leksikografi jawabannya. Mengapa? Leksikografi mata kuliah yang  mengajari saya bagaimana cara membuat kamus, tata cara peulisan kamus, bagaimana cara meggali data dan mebuat kamus terkesan menarik. Saya mendapatkan banyak pelajaran yang luar biasa. Sebetulan saat itu saya mengambil kajian tentang kamus istilah Tayub. Kebudayaan yang tidak terlepas dari masyarakat kabupaten Nganjuk. Proses penelitian saya lakukan ketika kebudayaan tayub itu digelar. Kebudayaan tayub sendiri hanya digelar di waktu-waktu tertentu saja dan pelaksanaannya di lakukan di tengah malam. Jadi bisa dibayangkan, pukul 02.00 pagi saya turut serta menyaksikan kebudayaan tayub sambil menggali data. Mencari cara bagaimana agar tidak terlihat bahwa saat itu saya sedang melakukan sebuah penelitian. Itu pengalaman paling mengesankan bagi saya.

Prospek ke depan untuk jurusan PBSI tidak hanya berprofesi sebagai tenaga pendidik atau guru. Tenang saja, lulusan mahasiswa PBSI bisa menjadi seorang Editor (EYD saja diperhatikan, apa lagi kamu… upss), penulis, MC, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya masih banyak pengalaman yang ingin saya bagikan kepada teman-teman, akan tetapi jika saya menuliskan semuanya mungki lemabaran ini tidak akan cukup, hehehe. Sekian pengalaman dai engalaman jurusan yang saya ambil, semoga bisa memberikan sedikit manfaat untuk teman-teman semua. Jangan lupa berbagi, karena berbagi itu menyenangkan.


Tentang Penulis: Mahasiswa semester 8 prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FIP Universitas Trunojoyo Madura. Aktivitas saat ini adalah mrnyibukkan diri sambil menunggu yudisium dan wisuda. Hobi saya menulis dan mengelupas kulit telur rebus. Saya bercita-cita menjadi seorang editor, membahagiakan keluarga. Prinsip hidup saya “Ada usaha, yakin! Pasto ada jalan!”

1 thought on “Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Ain)”

  1. Assalamu’alaikum kak, kira kira lebih baik kita ambil ilmu murni atau pendidikan ya kak? Saya sebenarnya lebih suka ilmu murni, tpi saya juga ingin menjadi guru. Karena kata org jurusan ilmu murni itu, lebih sulit menjadi tenaga pengajar. Terimakasih kak, dimohon jawabannya 🙂

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *