Kedokteran Gigi UGM (Ahmad)

Assalamualaikum, halo teman-teman intipjurusan.com. Kenalkan nama saya Ahmad Ridwan, saat SD-SMP dipanggil Ahmad, setelah SMA hingga sekarang dipanggil Ridwan. Panggil apapunlah, asalkan panggilan baik hehe. Saya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM). Saat ini saya tercatat sebagai mahasiswa Program Profesi (Co-Ass) Kedokteran Gigi angkatan 2015. Jadi ceritanya nih di hari Kamis, 26 Oktober 2017 ini ga sengaja ketemu akun IG intipjurusan, setelah dibaca-baca saya tertarik lah untuk ikut pula berbagi cerita disini. Tentu dengan penuh usaha merangkai kata-kata, karena bukanlah seorang penulis yang baik. Baiklah kita mulai.

Kedokteran Gigi, jika mendengarnya maka mungkin ada dua persepsi yang muncul, pertama yang menganggap ini jurusan bergengsi, sebaliknya, ada yang menganggap tak lebih dari sekedar jurusan “kedua” setelah jurusan “sebelah”, fakultas kedokteran umum. Kamu termasuk yang mana nih??

Lalu sebenarnya Kedokteran Gigi itu apa dan bagaimana?? Jika membaca dari wikipedia (web favorit kita semua) kedokteran gigi adalah “ilmu mengenai pencegahan dan perawatan penyakit atau kelainan pada gigi dan mulut melalui tindakan tanpa atau dengan pembedahan. Seseorang yang mempraktikkan ilmu kedokteran gigi disebut sebagai dokter gigi”. Dari definisi tersebut yang perlu dijelaskan lebih adalah terkait profesinya. Karena jika berbicara profesi pada kedokteran gigi maka tidak hanya ada dokter gigi, tapi juga perawat gigi. Jurusan pendidikan dokter gigi biasanya diselenggarakan oleh universitas dengan jenjang S1 dan Profesi, sedangkan jurusan keperawatan gigi biasanya diselenggarakan oleh poltekes (politeknik kesehatan) dengan jenjang pendidikan D3. Namun, di FKG UGM sendiri pada tahun 2009 membuka jurusan keperawatan gigi dengan jenjang S1 yang saat ini kurikulum dan namanya telah disesuaikan dan diubah menjadi “dental hygenist”.

Saya sendiri sebagaimana telah disebutkan sebelumnya adalah mahasiswa jurusan pendidikan dokter gigi (PDG). Selain di UGM, terdapat sekitar 30an institusi lain yang menyelenggarakan program pendidikan dokter gigi, sebagian institusi telah menjadi fakultas kedokteran gigi, sebagian lain masih sebagai jurusan dibawah fakultas kedokteran. Begitulah secara umum

Selanjutnya mari masuk agak dalam tentang seluk-beluk pendidikan dokter gigi. Pertama saya ingin mengulas lagi soal jenjang pendidikan. Jadi, untuk menjadi dokter gigi ada dua jenjang pendidikan yang harus ditempuh, yakni jenjang sarjana dan jenjang profesi. Secara umum jenjang sarjana ditempuh dalam waktu 4 tahun dan jenjang profesi selama 1,8-2 tahun. Seorang yang telah lulus jenjang sarjana akan mendapat gelar S.KG (sarjana Kedokteran Gigi). Namun dengan gelar tersebut seseorang belum bisa bekerja/berpraktik sebagai dokter gigi dan harus menjalani terlebih dahulu jenjang profesi untuk mendapatkan gelar drg (dokter gigi) agar dapat praktik sebagaimana seorang dokter gigi.

Apa sih perbedaan pada dua jenjang tersebut? Pada jenjang sarjana pembelajaran difokuskan pada teori-teori sehingga isinya adalah kuliah dalam kelas, presentasi, diskusi serta praktikum di laboratorium. Intinya pada jenjang ini kita mempelajari segala teori untuk mempersiapkan diri menghadapi dan menangani pasien. Apa saja sih yang dipelajari? Jadi di FKG UGM terdapat 12 departemen keilmuan kedokteran gigi. Semua pembelajaran yang diterima oleh mahasiswa adalah berasal dari bidang keilmuan masing-masing departemen tersebut. Dua belas departemen tersebut adalah Ilmu Kedokteran Gigi Dasar (Biomedika), Ilmu Biologi Mulut, Periodonsia, Prostodonsia, Ortodonsia, Ilmu Kedokteran Gigi Masyarakat, Ilmu Konservasi Gigi, Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial, Ilmu Penyakit Mulut, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Radiologi Kedokteran Gigi, Ilmu Biomaterial Kedokteran Gigi. Bingung dengan bahasa-bahasanya? Hmm beberapa di googling aja yak, kalo ditulis disini semua ga cukup hehe. Tapi bolehlah saya jelasin sedikit soal ilmu Biomedika untuk menggambarkan luasnya cakupan yang dipelajari seorang dokter gigi, diluar soal gigi dan mulut. Materi-materi ilmu kedokteran gigi dasar misalnya, diantaranya ada anatomi, fisiologi, histologi, biokimia dsb. Ilmu anatominya gigi dan mulut aja?? Enggak dong, kita juga mempelajari (re: menghapal) baik anatomi “kering” (tulang-belulang) dari ujung kepala sampai jari-jari kaki, hingga anatomi “basah” (otot-otot dan saraf tubuh). Belajarnya dari tulang dan “mayat” asli lo teman-teman, seru, eh serem kan? Hehe

Selain itu, materi kedokteran gigi dasar juga mencakup beberapa pembelajaran sebagaimana yang dipelajari di kedokteran umum seperti ilmu kedokteran mata, kedokteran jiwa, kedokteran THT dsb. Luas kan?

follow_intipjurusan_COMPRES
Koas FKG UGM saat pengabdian masyarakat FKG UGM dan Dompet Duafa

Selanjutnya, pada jenjang profesi (Co-Ass) pembelajaran dilakukan langsung dengan melakukan perawatan kasus pada pasien. Singkatnya, jika pada jenjang sarjana seseorang kuliah, presentasi dan diskusi tentang bagaimana sebuah tambalan yang baik dan praktimum menambal yang baik pada model gigi, maka pada jenjang profesi seseorang harus menambal gigi yang baik sesuai kasus yang ada langsung pada pasien. Jenjang ini tampaknya lebih bervariasi suka-dukanya, karena kita harus “mencari pasien” untuk memenuhi requirement kasus yang telah ditentukan seperti pasien untuk cabut gigi, tambal gigi, pemasangan gigi palsu dll. Kita pula kali ini langsung berhadapan dengan pasien hidup yang memiliki berbagai karakter sehingga harus mahir berkomunikasi agar pasien dapat kooperatif dan nyaman saat masa perawatan. Tentu soal komunikasi ini sebuah pembelajaran yang penting selain pembelajaran mengenai perawatan itu sendiri.

Foto bersama pasien paska perawatan gigi

Contoh suka-dukanya? Hmm dukanya barangkali saat seringkali di PHP-in pasien, udah janjian dari seminggu, diingetin terus tiap hari, eh pas hari-H nya ga dateng, maka “gabut” lah hari itu. Kalau sukanya?? Hmm bukankah melihat wajah pasien yang tersenyum manis paska dibuatkan gigi tiruan (gigi palsu) misalnya adalah sebuah kebahagiaan?? Apalagi ditambah ungkapan terima kasih berupa kue dari pasien yang suka bikin kue, pisang dari pasien yang punya kebun, atau susu dari pasien yang punya ternak sapi hehe.

Begitulah soal jenjang pendidikan dan apa saja yang dipelajari… yang diterapkan sekarang. Maksudnya? Apakah akan ada perubahan? Jadi, saat ini sedang dirancang sebuah peraturan yang mengatur tentang kewajiban internship (penempatan wajib) bagi dokter gigi yang sudah lulus. Kalau sudah disetujui, maka paska lulus dokter gigi kita tidak bisa langsung “bebas” berpraktik, melainkan harus mengikuti penempatan wajib dahulu selama kurang lebih satu tahun.  Meskipun sudah berstatus menjadi dokter gigi, namun status “wajib” membuat intership ini terasa seperti alur pendidikan tambahan. “Semoga bisa lulus sebelum peraturan ini keluar, biar bisa nikah dan ikut suami, masa harus nambah setahun lagi??”, nampaknya begitulah mungkin suara hati banyak co-ass KG yang perempuan saat ini. Hehehe. Nah kan jadi kemana-mana. Yuk fokus lagi..

“Wah, kalau baca yang diatas sih kayaknya padat banget ya kuliahnya? Ga bisa ngapa-ngapain lagi dong selain kuliah..” begitukah yang terpikir?

Tenang, ga se-serem itu kok. Kalo soal padat mah, kuliah dimana-mana juga sama-sama padat kayaknya,. Namun anak FKG masih bisa kok ikut berbagai macam kegiatan. Di UGM sendiri terdapat berbagai organisasi seperti BEM, kelompok studi, unit kegiatan mahasiswa (UKM) berbagai bidang baik di tingkat fakultas maupun universitas, tinggal pilih sesuai keinginan. Ada banyak anak FKG yang berkecimpung di organisasi-organisasi tersebut. Bahkan mahasiswa FKG ada organisasi tingkat nasionalnya lo, yakni PSMKGI (Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia). DI PSMKGI berkumpul dan bertemu banyak mahasiswa dari berbagai institusi/universitas sehingga bisa banyak berbagi dan mendapat manfaat darinya.

Foto bersama di salah satu acara PSMKGI di Universitas Jember

Dari berbagai kegiatan organisasi tersebut, diantaranya dapat menjadi sarana kita menerapkan langsung beberapa ilmu yang dipelajari di kuliah. Misalnya nih, anak FKG melalui BEM-nya sering diundang untuk membantu atau bahkan mengadakan sendiri pengabdian-pengabdian masyarakat yang berisi edukasi kesehatan gigi hingga perawatan-perawatan ringan kesehatan gigi kepada masyarakat. Selain organisasi dan kegiatan kemasyarakatan tersebut, bagi yang suka yang berbau ilmiah ada banyak kompetisi yang bisa diikuti oleh mahasiswa FKG baik di bidang kedokteran gigi maupun bidang keilmuan umum. Contohnya antara lain adalah PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang berlanjut hingga PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), dan FKG UGM termasuk yang sering meloloskan mahasiswanya hingga tingkat PIMNAS dan memenangkan Medali. Banyak lagi deh contohnya. Nah, kalau nanti prestasi bidang organisasi, kompetisi, dan pengabdian masyarakatnya sudah ada, bisa deh coba ikutan pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres).

Foto bersama Rektor UGM 2014-2017

Udah capek baca? Kalau begitu kita cukupkan disini yah. Namun sebelum ditutup, saya mau menambahkan sedikit lagi. Terlepas dari berbagai persepsi yang ada tentang kedokteran gigi, ini hanya salah satu bidang keilmuan diantara banyak keilmuan lain, yang diharapkan dari mempelajari bidang keilmuan bukan sekedar gengsi atau tidaknya, namun soal kebermanfaatannya. Setelah itu kesulitan yang ada di dalamnya menjadi tantangan untuk ditaklukkan agar kita menguasai ilmunya dan dapat memberikan manfaat.

Sekian. Tentu masih banyaaaak lagi yang belum terjelaskan. Lain kesempatan yaa.. atau bisa kita lanjutkan komunikasi via akun akun IG, WA atau Line saya di bio yaa. Terima kasih sudah menyimak. Semoga Bermanfaat.


Tentang Penulis : Ahmad Ridwan

mahasiswa program profesi FKG UGM “tingkat akhir” yang sedang berusaha menyelesaikan requiremen’’’ kasusnya dan sedang belajar menulis yang baik. Hoby membaca, ikut kajian, dan nonton film. Pernah aktif di beberapa organisasi tingkat fakultas, universitas dan nasional serta menjuarai beberapa kompetisi semasa kuliah. Untuk berkomunikasi silahkan di 0899 4601 012 (WA) atau IG : ar_ridwan_

Kode Konten : X204

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *