Kebidanan UNSIQ (Wulan)

Assalamualikum teman teman, perkenalkan namaku Wulan Aprilia. Mahasiswa Kebidanan Universitas Sains AlQuran (UNSIQ) Wonosobo. Wonosobo kurang familiar? Boleh dikepoin kok, yuk searching di google negeri atas awannya Jawa Tengah, dijamin dah bakal terpana sugguhan panoramanya. Ok, balik ya, aku masuk angkatan 2016 yang sekarang sedang menikmati semester 4. Bicara soal bidan, apa sih yang terlintas di pikiran teman-teman? Salah satu respon dari teman putih abu-abuku bilang gini “Bidan itu ibu ibu gendut yang galak abis”. Olala, jadi aku bakal bertransformasi menjadi ibu-ibu galak setelah lepas seragam SMA? Jawabannya bisa kalian simak dibawah ini ya. Sebenarnya bidan itu siapa sih? Bidan adalah mereka yang menemani wanita disepanjang siklus kehidupannya. Eitss, syarat utamanya juga harus wanita ya. Jadi yang cowok-cowok nggak boleh tuh jadi bidan, cukup jadi suaminya bidan aja ya, wkwk. Bidan berperan pada kehidupan dari kisah cinta orang tua kita loh. Sebelum menikah, orang tua kita pasti disuntik vaksin pranikah sama bidan, namanya vaksin TT, abis itu ada perencanaan kehamilan, periksa hamil, membantu bersalin, pasang KB, pemantauan tumbuh kembang balita, penanganan pertama balita sakit, konsultasi seputar remaja dan masalahnya, ada lagi masalah untuk kesehatan reproduksi, sampai kemudian menopause semuanya sama bidan. Tapi jangan kaget, ketika di masyarakat kita dipandang bisa menangani apapun seperti dokter, apalagi saat bertugas di pelosok negeri.

 

Untuk mata kuliah, jujur keluh kesah sering kali terlontar. Soalnya banyak banget yang kita harus kuasai. Kelompok besarnya ada 3, mata kuliah utama yaitu kesehatan (kesehatan secara umum dan kebidanannya), mata kuliah umum (Bahasa Indonesi, Bahasa Inggris, Ilmu Sosial Budaya dan Antropologi, Entrepreneurship, dkk), sama tambahan keagamaannya untuk kampusku (Fiqih Kesehatan, Pendidikan Agama Islam, Tafsir Al Qur’an dan Hadist, Bahasa Arab, dkk). Tapi tenang, semua itu tidak membosankan. Karena selain di kelas, kita juga ada praktikum di laboratorium dan terjun langsung ke fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat. Itu agenda wajib tiap semester lohh. Asyik kan? Contohnya nih, semester 1 waktu itu kita ada pembelajaran di laboratorium anatomi Fakultas Kedokteran. Disitu kita dalam seminggu belajar mengenal bagian tubuh manusia dalam bahasa latin, dengan menghadirkan media pembelajaran jenazah manusia yang diawetkan atau biasa kita sebut kadaver/ guru diam. Ini yang paling mengesankan, kita jadi tahu bagaimana sih keadaan sebenarnya dari tubuh kita, terutama yang bagian dalam. Awalnya sih rada-rada takut, tapi kalau sekarang malah ketagihan pengen praktikum kaya gini lagi. Terus nih semester 2 kita akan merasakan bagaimana jadi perawat di rumah sakit. Kenapa perawat? Karena sebagai salah satu tenaga kesehatan, bidan juga ditutut menguasi keterampilan yang harus dimiliki tenaga kesehatan secara umum, seperti menghitung tekanan darah, pasang ganti perban, pasang lepas infus, pasang lepas oksigen, menjahit luka, dll. Baru nih yang semster 3 kita mengaplikasikan ilmu Asuhan Kebidanan (ASKEB) nya. Biasanya kita akan ditugaskan di puskesmas rawat inap sekaligus tinggal di Bidan praktik mandiri (BPM). Maka persiapkanlah diri kita menjadi bidan siaga (siap antar dan jaga) 24 jam. Pernah nih waktu itu aku sampat pulang ke rumah bidan jam 23:00 WIB yang jaraknya sekitar 7 menit dari puskesmas, apalagi lewatnya jalanan sepi dan gelap, yang samping kanan kirinya persawahan, gara gara menumpuknya kegiatan di puskesmas dan bayaknya pasien bersalin. Belum lagi jam 06.00 kita harus sudah siap di BPM melayani pasien yang datang, sebelum kembali tugas di puskesmas jam 07:00. Wahh itu serasa tubuh mau luruh.

Mahasiswi prody Kebidanan 2016 bersama dosen Pendidikan Agama Islam

Tugas keseharian kita di kamus tidak jauh beda lah sama jurusan lain, kaya bikin makalah, presentasi, cari jurnal, menyelesaikan persoalan kasus, dll. Tapi kalau sudah masuk praktikum, ini nih penyumbang terbesar tangan kita layaknya bekerja rodi. Dari praktikum tiap semester, seperti yang kusebutkan diatas, itu wajib ada dokumentasinya. Dengan target yang cukup banyak, waktu praktikum yang semester 3 itu aku harus mendokumentasikan minimal 10 pasien hamil, 10 pasien bersalin, 10 pasien KB, 5 pasien bayi baru lahir, 5 pasien balita, 5 resume dari masing masing ASKEB. Dan itu semua ditulis tangan di kertas folio dalam waktu 1 bulan masa praktek. Jadi nih begitu praktek selesai, laporanpun juga selesai dengan mengantongi tanda tangan acc dari pembimbing lahan. Andaikan sudah di acc pembimbing lahan, tapi tidak lulus responsi dosen kampus, pastilah kita harus revisi dengan mencari pasien lagi di praktikum selajutnya, untuk melunasi target praktikum sebelumnya. Makannya ada istilah “Hutang ASKEB”. Mau tahu berapa banyak hasil dokumentasi praktikum semester 3ku? 598 halaman folio tulis tangan. Sebelum kita menerapkannya di lahan, kita juga pasti terlebih dahulu dibimbing dan lulus ujian praktikum di laboratorium kampus, beberapa tugas yang mempermudah kita sebelum memperoleh bimbingan tersebut juga ada loh, seperti buat leaflet, video, booklet, lembar balik, dll. Tugas yang paling berkesan bagiku sih, waktu kita bermain peran. Disitu kita mengangkat sebuah kasus kebidanan, tapi disajikan dalam pertunjukan kecil di kelas.

Tugas lapangan yang pernah kita lakukan sampai saat ini baru terbatas ke palayanan kesehatan seperti di atas. Namun ada satu hal yang cukup berkesan. Jadi ceritanya karena banyaknya agenda kegiatan puskesmas dihari itu, aku diamanati bidan untuk mengisi posyandu lansia sendiri. Cukup deg-deggan sih awalnya, karena biasanya kita sebagai mahasiswa selalu ditemani bidan untuk kegiatan apapun. Tapi akhirnya, keramahan ibu-ibu dan kader tersebut yang membuatku tidak canggung untuk berbaur dan menyampaikan sedikit ilmu, bahkan saat mereka tahu aku hanyalah seorang mahasiswi. Dari situ, aku belajar tentang berharganya sebuah kepercayaan. Sebagai penguat mimpi mimpiku untuk bermanfaat bagi banyak orang. Agar jika suatu hari semangat belajarku redup, seklumit kenangan inilah yang akan menguatkanku untuk terus berproses menjadi lebih baik.

Praktikum laboratorium kebidanan

Selain D3 Kebidanan, Progam Study Kesehatan UNSIQ Wonosobo, juga membuka D3 Keperawatan yang terakreditasi BAN-PT

Beberapa alumninya telah berkiprah di pusat pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, BPM. Ada juga yang sudah menjadi dosen pendidik maupun entrepreneur. Sebagian yang lain memilih melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Itulah sepenggal kisahku sampai detik ini, semoga bermanfaat untuk teman-teman diseluruh nusantara. Pesan kita jangan ragu untuk menjadi bidan yaa teman-teman. Walaupun mungkin bukan keinginan awalmu, tapi insyaallah rencana Tuhan jauh lebih baik dari rencana yang sudah kita siapkan dari dulu. Kupanjatkan sabar selalu menemani langkah-langkah kecil kita semua, demi mewujudkan mimpi besar kita bersama. Amin.

Wassalamualikum teman-teman.


Tentang Penulis :

Wulan Aprilia, lahir di negeri atas awan, Wonosobo. Sedang belajar merangkai kata dan suka membaca. Diselipkan ke pedalaman nusantara dan mencicipi budaya belahan bumi lain adalah mimpinya, selain mewujudkan perpustakaan.

Kode Konten: X336

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *