S2 Ilmu Sastra Unpad (Henda)

Hai pembaca yang budiman, nama saya Henda Suhenda. Saya adalah lulusan S2 Ilmu Sastra Unpad. Saya lulus akhir tahun 2014. Pasti banyak yang bertanya, ngapain sekolah ilmu sastra sampe ke S2? Mau jadi apa? Penulis? Sastrawan? Emang pekerjaan itu bisa menghasilkan uang?

Yupp, itu adalah pertanyaan-pertanyaan mainstream yang sangat sering saya dengar ketika saya hendak atau saat proses menempuh kuliah di jurusan ini. Oh iya, sebelumnya saya merupakan lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP Sebelas April, Sumedang, dengan gelar S.Pd.  Saya lulus sarjana tahun 2011, dan melanjutkan S2 tahun 2013 awal.  Selama mengisi waktu 2 tahun sebelum masuk S2, saya bekerja di sebuah perusahaan jasa keuangan. Lah kok bisa? Karena saya setelah lulus tidak mau jadi guru honorer, bukannya saya materialistis, tapi saya mencoba untuk menjadi orang yang realistis.

Singkat cerita, setelah saya punya tabungan yang cukup maka saya melanjutkan S2 di kampus yang memang sudah saya idamkan sejak lulus SMA. Sebelumnya begitu banyak sekali pertimbangan, masukkan, dan nasehat bahwa kalau mau S2 saya harus mengambil lagi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, masalahnya saya tidak mau ada lagi embel2 “pendidikan. Ketika bulan November ada pembukaan kelas di jurusan Ilmu Sastra untuk mulai kuliah Januari 2013, saya langsung daftar dan akhirnya lolos seleksi.

Ketika mengatakan “Ilmu Sastra”, pemikiran orang pasti hanya tertuju hanya pada “sastra”, padahal di jurusan Ilmu Sastra Unpad ini ada begitu banyak jurusan atau biasa disebut konsentrasi, ada Linguistik Umum, Linguistik Jepang, Linguistik Inggris, dan Sastra Kontemporer. Nah yang melulu mempelajari sastra, bahkan (katanya) sampai wajib baca novel 10 perbulan itu adalah sastra kontemporer. Konsentrasi yang saya ambil adalah Linguistik Umum.

di-web

Saat hari pertama masuk kelas, saya kaget karena jumlah mahasiswanya hanya 5 orang saat itu. Tetapi, di semester 1 kita masih ada satu mata kuliah yang bersifat umum, yaitu Filsafat Ilmu, maka digabung dengan konsentrasi lain jadi sekitar 20 mahasiswa, termasuk konsentrasi Kajian Budaya. Yang saya sukai selain jumlah mahasiswanya yang hanya 5 orang sehingga bisa fokus, juga adalah usia kami yang seumuran.. Dan dari pengalaman melihat kakak-kakak kelas, satu kelasnya mahasiswa laki-laki tidak pernah lebih dari tiga. Ya, jurusan seperti ini memang tidak banyak peminat dari kalangan kaum adam, padahal ilmu yang diajarkan juga universal kok.

Selama tiga semester kuliah di jurusan Linguistik Umum ini, tidak ada satu pun mata kuliah yang berbau “sastra”. Beberapa mata kuliah yang mendominasi adalah Linguistik Terapan seperti antropolinguistik, analisis percakapan, dan analisis wacana kritis. Mata kuliah grammar atau tata bahasa diajarkan di awal semester. Tapi sebenarnya bukan grammar, lebih kepada bagaimana perkembangan dan isu-isu yang terjadi. Kami juga belajar memahami bagaimana sebuah teks diproduksi dan pengaruhnya bagi sosial masyarakat. Sepintas bagi saya mirip dengan Ilmu Komunikasi. Sangat jarang sekali perkuliahan diisi hanya dengan ceramah, sebagian besar justru kami mahasiswa yang presentasi. Tidak ada ujian-ujian seperti UTS dan UAS, semua ujian dibuat dalam perintah menulis penelitian, makalah.

Setelah Acara Diseminasi Nasional Kebudayaan LIPI

Karena ini adalah “Linguistik Umum” maka rata-rata topik yang dibahas pun adalah tentang bahasa Indonesia, bahasa daerah. Tapi sebenarnya hanya penyampaiannya saja, terkadang saya menggunakan bahan dari bahasa Inggris dan bahasa Jepang, karena sedikit-sedikit saya bisa kedua bahasa tersebut. Ada satu mata kuliah yang sangat saya gemari yaitu mata kuliah “Terjemahan”, selain karena dosennya adalah seorang Native dari Rumania  yang bisa bicara 6 bahasa termasuk B.Indo dan Sunda, topik dan bahan yang diajarkan sangat menarik. Kita dibiasakan untuk menerjemahkan Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris. Selain untuk menerjemahkan, kita juga diberikan ilmu-ilmu yang bersifat teoretis tentang penerjemahan. Dengan mata kuliah ini, sepertinya bahasa Inggris kami benar-benar naik level.

Di jurusan ini sebenarnya kita tidak hanya akan diajarkan hal-hal berbau bahasa, tapi bagaimana kita dituntut untuk melakukan riset bahasa, menulis jurnal, dan berbicara. Selama kuliah, saya pernah melakukan penelitian hingga ke Singapore dan membawakan makalah penelitian saya di beberapa seminar nasional dan internasional yang diselenggarakan di UGM, Universitas Indonesia, LIPI, Balai Bahasa Bandung. Yang paling berkesan adalah ketika saya jadi pembicara pleno di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Saat itu memang Unpad mengharuskan makalah prosiding dan jurnal sebagai syarat kelulusan S2 kami.

Lalu, setelah lulus saya menjadi apa?prospek kerjanya apa?

Menjadi Pembicara Pleno di Konferensi Linguistik Internasional Unika Atmajaya

Ketika saya semester 3, melihat kakak-kakak tingkat saya banyak yang menjadi dosen di daerah masing-masing. Selain dosen, beberapa ada yang jadi jurnalis dan editor. Ada juga yang menjadi staf ahli anggota DPR RI. Saya sendiri saat itu masih belum menetapkan diri mau kemana. Sekitar beberapa bulan sebelum lulus, saya ditawari menjadi dosen di sebuah universitas di Bandung. Tapi takdir berkata lain, seminggu setelah lulus saya malah  diterima menjadi Guru Bahasa Indonesia di sebuah Sekolah Internasional yang berafiliasi dengan Singapura. Sekitar 6 bulan dari itu juga saya diminta menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Mengajar BIPA untuk anak-anak usia low-primary

Selama bekerja di sekolah internasional, saya mendapat beberapa training di dalam maupun di luar negeri. Ternyata bahasa Indonesia sudah masuk dalam kurikulum internasional, bahkan tidak hanya satu kurikulum, melainkan dua, yaitu Cambridge untuk IGCSE dan International Baccalaureate untuk tingkat SMP dan SMA nya atau disebut MYP dan DP. Selama saya mengikuti beberapa training, saya merasa heran karena mayoritas guru bahasa Indonesia di sekolah internasional itu adalah lulusan bahasa Inggris, atau bahasa asing. Bahkan ada yang lulusan sejarah dan ekonomi.

Lalu kemana lulusan  bahasa dan sastra Indonesia nya?

Nah maka dari itu, tidak perlu lagi  malu dan ragu berkuliah di jurusan sastra atau bahasa Indonesia. Soal prospek itu kembali ke diri kita sendiri, mau dibawa ke mana dan harus bagaimana. J


Tentang Penulis:

Henda Suhenda, lahir di Sumedang, 10 Juni 1989. Lulusan S2 Ilmu Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung. Praktisi kurikulum bahasa Indonesia di Cambridge International Examination dan International Baccalaureate. Mengajar di Singapore International School dan Universitas Darma Persada, Jakarta.

Instagram: @henda.suhenda10

Linkedin: https://www.linkedin.com/in/henda-suhenda-487a4774/

Kode Konten: X340

1 thought on “S2 Ilmu Sastra Unpad (Henda)”

  1. Kakak berarti S2nya sastra indonesia ya kak? Kira kira untuk S1 lebih baik ilmu murni atau pendidikan ya kak? Kemudian, sulit gak sih kak buat lanjut S2 sastra itu?

Ayo komen disini untuk bertanya ke penulis ! Kami akan kirim balasan melalui email

Your email address will not be published. Required fields are marked *